Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Sunday, July 21, 2019

Mencintai Tak Pernah Mudah, Dicintai Tak Selalu Indah (4)

"Aku sudah memutuskan untuk bersamamu."
"Apakah kamu yakin bahwa aku bukan pelarian, pelampiasan, ya sejenis itu ?"
"Apakah kamu merasa apa yang kulakukan untukmu adalah sesuatu yang kubuat-buat ? Aku rasa itu cukup untuk menjawab bahwa kamu bukan pelarian."

***

Aku bermain licik saat itu. Ah bukan licik juga. Hei, menutupi kebenaran untuk permainan di mana kita harus menutupi jati diri kita bukan sesuatu yang salah bukan ? Begitulah, aku yang sebenarnya berperan sebagai Spy, mengeluarkan kartu hitam saat bermain berdua dengannya yang berperan sebagai Resistance. Mungkin muka polos dan sebagai yang lebih tua dibanding pemain lainnya membuat mereka percaya bahwa aku adalah pemegang kartu merah. Takut kalah sebetulnya karena aku membuka jati diriku di awal permainan. Untung ada anak itu yang bisa dijadikan kambing hitam ehehe. 

Sambil bermain, sebagian di antara kami memasak dan permainan dihentikan ketika makanan sudah siap. Aku lupa menu hari itu apa, sepertinya capcay. Tidak, aku tidak makan berdua dengannya lagi. Setelah sarapan selesai, briefing pun dimulai. Hari itu kami kembali terbagi menjadi dua tim, satu tim di Desa A dan satu tim di Desa B. Personil di dalam tim ditukar. Aku dan ketiga temanku serta dua orang adik tingkat (iya, salah satunya adalah dia) bertugas di Desa B. Total 6 orang, 3 laki-laki, 3 perempuan.

Perjalanan ke Desa B tidak terlalu sulit sebetulnya. Hanya saja medan yang menanjak membuat kami yang lebih tua menjadi lebih mudah lelah, "Dasar adik-adik gak tahu diri, masa yang sudah tua disuruh naik-naik". Ada beberapa barang yang kami bawa, cemilan, buku, kitab, juga satu bak air. Di tengah perjalanan, ada dua jalur yang bisa kami tempuh, satu jalur yang lebih landai dengan kondisi jalan yang sudah rapi berbatu namun sedikit jauh, dan satu jalur yang terjal dengan kondisi menerobos perkebunan, namun lebih dekat. Di persimpangan itu kami berhenti. Adik tingkat menyarankan untuk menerobos perkebunan karena dia sering lewat situ dan lebih dekat. Aku dan dua teman perempuanku sedikit keberatan karena medan yang terlihat seolah longsor jika kami lewati. Kami pun memilih jalur yang berbeda. Adik tingkat tadi dan teman laki-lakiku memilih menerobos perkebunan. Sementara aku dan teman-teman perempuanku memilih lewat jalur biasa. Satu orang kebingungan harus memilih yang mana. Dengan membawa bak air yang cukup besar, setelah lama memandangi jalur yang harus dipilih, akhirnya dia ikut berjalan di belakang kami melewati jalur biasa. "Biar ada yang jagain juga"

"Jadi gimana pembagian ngajarnya nih?
"Aku mau kelas yang paling rendah ya, TK, SD 123 aja"
"Kamu ngajar ngaji anak-anak yang udah gede aja yaa, aku gak jago nih."

Aku sengaja lambat-lambat dalam memilih. Mengambil pilihan yang tersisa saja. Anak-anak terbagi menjadi tiga kelompok, dua kelompok sudah diambil temanku dan tinggal satu kelompok. Akhirnya aku dan anak itu mengajar kelompok tengah ini. Wangi yang lembut, suara berat dan canggung itu pun semakin akrab tersentuh.

Pembelajaran selesai, saatnya pengumuman pemenang dan juga pembagian hadiah. Ada foto bersama juga, termasuk pengambilan sebuah foto yang di kemudian hari nanti akan jadi sesuatu yang berkesan dalam lingkungan kami. 

Sebelum kembali ke basecamp, kami membersihkan mushola yang baru saja kami pakai. Menyapu, mengepel, yaa semacam itu. Tak disangka kain pel yang kami gunakan luntur dan membekas di tanganku, warna ungu. "bisa hilang gak kak ?"  "bisa, cuma gak tau kapan, udah kucuci berkali-kali belum hilang. Udah selesai ? Pulang yuk, aku piket masak nih."

Di perjalanan pulang, kami bertemu ketua RT tepat di spot foto favorit kami. Untuk kenang-kenangan, kami meminta tolong pada pak RT untuk memotret kami. Voila. Dia di sebelahku.
Perjalanan pulang, ia berada di paling belakang barisan. Kali ini kami lewat jalan yang lain, berbeda dengan saat berangkat, menerobos perkebunan, entah akan sampai ke basecamp atau tidak.

***

Sebenarnya aku ingin menceritakan perjalanan tiga malam dua hari itu dengan lengkap, tapi sepertinya akan membosankan. Aku cukupkan saja tentang perjalanan itu ya. Perjalanan yang mungkin akan kuingat seumur hidupku (Aku sekarang 22 tahun, yaa mungkin cukup akan kuingat 22 tahun lagi saja. Tidak lebih.) Tentang apa yang terjadi setelah itu, ya kami berempat belas pulang naik angkot dan kereta. Di stasiun, dia minum teh kotak blueberry (sepertinya, entah apa rasanya, warna kemasannya ungu). Dari stasiun menuju tempat tinggal, kami satu mobil, aku di sebelahnya. Kami tidak langsung sampai ke tempat tinggal masing-masing. Kami turun di kampus, lalu berjalan ke tempat tinggal kami. Aku dan dia searah, jadi kami beriringan. Canggung, sedikit. Ada beberapa percakapan basa-basi, hanya saja aku lupa tentang apa. Aku sampai di tempat tinggalku, dan dia melanjutkan perjalanannya, berpisah dengan canggung. 



Bersambung, 
2:58am.160719

Thursday, July 11, 2019

Mencintai Tak Pernah Mudah, Dicintai Tak Selalu Indah (3)

"Benar kata orang, jatuh cinta itu sekian detik saja bisa, merawatnya yang susah."

***




Sabtu sore, aku dan beberapa kawanku yang lain mengajar anak-anak di desa itu. Ada dua desa yang kami kunjungi. Sebut saja desa A dan desa B. Desa A tempat kami menginap penduduknya lebih banyak. Lokasinya pun bisa terbilang lebih mudah dijangkau daripada desa B yang berada di dataran yang lebih tinggi. Kami terbagi menjadi dua kelompok dalam kegiatan ini. Aku di desa A bersama teman-temanku yang seangkatan dan dua adik tingkat. Sedangkan yang lain mengajar di desa B. 

Sungguh terasa sekali perbedaan anak-anak di desa dan di kota. Di desa, anak-anak masih sulit menangkap materi pembelajaran yang diberikan. Hanya satu-dua saja yang mampu mengerti dengan mudah. Namun, semangat mereka patut mendapatkan apresiasi. Hadir tepat waktu, berpenampilan rapi, dan menyiapkan alat tulis mereka -yang pada akhirnya aku tahu bahwa kebanyakan dari mereka kekurangan buku tulis. Begitulah, di masjid Desa A yang menjadi titik kumpul warga-warga ini kami bisa berbagi ilmu dengan adik-adik itu. Materi yang diajarkan ? tidak jauh dari materi akademik. matematika, IPA, kebersihan dan kesehatan. Sungguh, rasanya bahagia sekali bisa berbagi dengan mereka. Melihat mereka tertawa, tersenyum, malu-malu, tersipu, bingung, ah banyak sekali ekspresi yang mereka tunjukkan. Tuhan sangat berbaik hati mempertemukan aku dengan mereka saat aku sedang dalam masa-masa kehilangan semangat.  

Malam itu kami makan nasi dengan lauk spagetti dan krupuk sebagai pelengkap. Ya, hujatlah, toh yang penting kami makan. Kali ini aku tidak makan bersama anak itu lagi. Dia makan sendirian. Ketika semuanya sudah selesai makan, tinggal aku saja yang belum selesai sampai ditinggalkan oleh partner makanku. "kamu memang harus makan bareng si anu deh biar ada yang nungguin."

"Jadi besok kita tukar ya kak, yang tadi di Desa A, besok ke Desa B."
"Tapi kan aku gak tau kalian tadi mengajarkan apa di Desa B ?"
"Emm gimana ya, oh gini aja kak, kita tukar soal aja, jadi aku buat soal untuk Desa B, kakak buat soal untuk Desa A. nah nanti kita tukar."
"Oke, setuju." 
"Eh kak, si anu mau ikut ke desa B lagi yaa. Katanya masih penasaran sama kembang desanya."

Malam itu, adik-adik tingkatku itu bermain kartu Spy-Resistance di homestay kami. Aku sangat lelah dan ingin tidur sebetulnya, tapi mereka masih betah main. Anak itu selalu dituduh jadi orang jahat. Kasihan sekali. Setelah aku mandi dan kurasa terlalu malam untuk mereka main, aku menyuruh mereka pergi. 

***

Pagi ini dimulai dengan memotong-motong sayur dan memasak. Tidak, bukan aku yang memasak, aku hanya membantu saja. Adik-adik tingkat itu datang lagi dan memainkan hal yang sama. Awalnya aku tidak tertarik, tapi sepertinya asik. 

"Jadi gini kak, ada Spy ada Resistance. Spy bisa mengeluarkan kartu merah dan hitam. tapi Resistance hanya bisa merah. Resistance harus menebak siapa Spy. kakak bisa milih beberapa orang buat diajak main, sesuai ketentuan. poinnya dihitung dari berapa banyak kartu muncul. jika kartu yang muncul semuanya merah, maka satu poin untuk resistance. namun jika kartu hitam muncul, maka satu poin untuk Spy."
"Oke."
"Mulai dari anu ya, pilih satu orang buat diajak main. 
"Aku mau ajak kakak."

...

di matamu, aku menemukan binar itu kembali. 
hatiku bilang akan menyimpan momen ini. 


Bersambung. 1107


Saturday, July 6, 2019

Mencintai Tak Pernah Mudah, Dicintai Tak Selalu Indah (2)

"Kalau disuruh memilih antara dicintai atau mencintai, kamu akan memilih yang mana ?" sebuah pertanyaan masuk ke salah satu akun tanya jawab milikku. 

"Buat seorang perempuan, lebih baik ia dicintai daripada mencintai, karena orang yang mencintai akan memperlakukan orang yang dicintai dengan sebaik-baiknya. perempuan itu kalau sudah cinta biasanya susah move on. beruntung jika yang ia cintai adalah orang yang baik, jika tidak ? bisa jadi sakit hati dan mungkin cedera fisik juga kan ? jika perempuan itu dicintai, dia pasti diperlakukan dengan baik oleh laki-laki yang mencintainya. Tapi tak ada salahnya mencintai, karena dengan mencintai, seseorang bisa lebih peka terhadap perasaan orang lain, lebih banyak berbuat baik karena orang yang mencintai selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk yang dia cintai." jawabku saat itu 


***
x



Tahun terakhirku di universitas begitu banyak kejadian yang mungkin tak bisa kulupakan. Kesibukan non akademik yang bertumpuk diikuti kesibukan akademik saat semester ganjil membuatku kuwalahan. Di tahun terakhir ini aku sekelas dengan seseorang yang sangat aku idamkan sejak masa orientasi. Aku tentu saja bahagia, tetapi sepertinya dia tidak. Ah sudahlah. Setelah dua semester sebelumnya aku benar-benar berjuang untuk sembuh dan hampir berhasil, sekarang dunia seakan mempermainkan aku dengan menyatukan kami dalam satu kelas. Ya benar, kami pernah sedekat Minggu ke Senin sebelum sejauh Senin ke Minggu. Seseorang yang aku sukai, namun masih terbayang trauma masa lalu. Kami tak pernah memulai, pun mengakhiri. Hanya tiba-tiba saja kami tak lagi saling menyapa karena sebuah salah paham dan aku melihatnya bersama gadis lain. Kejadian itu terjadi pada tahun keduaku di universitas. Pada tahun keempat ini, sebut saja hubungan kami sudah membaik kembali meski sesekali pertengkaran kecil tak terhindari. Tidak, kami tidak menjalin hubungan apapun. Aku menyukainya, namun dia masih menyukai gadis itu. 

"Kak, bisa ikut peninjauan ?"
"Kapan?"
"Akhir bulan ini kak."
"Baiklah, sepertinya bisa."

Akhir bulan 11 aku mengikuti sebuah peninjauan kegiatan sosial UKM yang aku ikuti. Pesertanya, aku dan 3 orang teman seangkatanku, dan sisanya adalah adik tingkat. Ada satu anak yang tidak pernah kulihat sebelumnya ikut dalam kegiatan ini. Dia memang terdaftar dalam kepanitiaan, tapi melihat batang hidungnya muncul pun seingatku hanya sekali saat rapat persiapan. Dia tidak pernah mengikuti event yang diselenggarakan. Namun, aku sangat hafal dengan anak ini. Bagaimana tidak, karena dia aku harus repot-repot menjelaskan bahkan hampir bertengkar dengan koordinator yang lain dan mitra kami dalam mencari dana kegiatan. Aku pun tak begitu menggubrisnya karena dia juga terlihat pendiam. 

Kami berangkat peninjauan pada malam hari. Aku sudah bertemu anak itu lebih dulu di lampu merah yang harus kami sebrangi untuk sampai di titik kumpul. Hampir saja kami tertinggal kereta menuju tempat kegiatan. Syukurlah, Tuhan masih berbaik hati dan merestui niat baik kami. Kami sampai di desa tujuan pada pagi hari. Kami beristirahat sebentar sambil membahas tentang kegiatan kami. Kegiatan yang akan kami lakukan adalah mengajar siswa SD. Ya benar, aku menjadi partner anak itu mengajar. Ragu sebetulnya, yah terima sajalah. Sebenarnya secara fisik anak itu menarik, melihat dia aku merasa seperti melihat orang yang aku sukai sejak masa orientasi tadi. Sejenak aku terpana saat dia mempraktikkan materi yang akan kami ajarkan. Aku jadi tahu tanggal lahirnya dan ternyata kami lahir di bulan yang sama. Selesai briefing, kami sarapan. Sudah menjadi kebiasaan dalam kegiatan kami ini bahwa ketika makan, maka kami akan makan bersama. Satu piring untuk berdua dan biasanya dengan orang berjenis kelamin sama. Sialnya atau justru untungnya, jumlah kami sekarang ganjil dan satu temanku sudah memutuskan untuk makan sendiri. Aku terlambat datang dan hanya tinggal anak itu yang belum mendapat pasangan makan. 

"Kak, makan", dia memanggilku.
"Iya." sahutku sambil mengambil tempat duduk di depannya. 

Meskipun dia ini laki-laki, namun makannya lambat sekali, sama sepertiku -aku lebih lambat dari dia. Jadilah kami sebagai orang terakhir yang selesai makan. Saat itu, rasa kesalku kepada dia sudah berkurang. 

Kami pun menuju sekolah tempat kami akan mengajar. Surprise! Semua rencana tidak bisa dilakukan karena anak-anak sekolah itu sudah pulang. Jadilah kami hanya menemani mereka bermain sepakbola dan kasti. Dia ikut nimbrung bermain sepakbola juga. Hmm, menarik. 

Sepulangnya, kami mampir ke rumah Ibu Kepala Sekolah.  Di sana kami disuguhi berbagai buah-buahan. Anak itu datang belakangan dan duduk di belakangku. Dia makan buah yang disajikan cukup banyak, jika tidak salah ingat aku sempat menuangkan minum untuknya. Setelah dirasa cukup, kami kembali ke homestay dan makan siang. Lagi-lagi aku harus makan berpasangan dengannya. Kali ini, dia tidak bisa menghabiskan makanan seperti saat sarapan karena sudah kekenyangan makan buah tadi. Tapi tetap kupaksa dia menghabiskan makanan. "Kan kamu laki-laki", kataku.


... 

Bersambung.

6719
   

Sunday, March 10, 2019

Mencintai Tak Pernah Mudah, Dicintai Tak Selalu Indah

     Seorang laki-laki pernah berkata kepadaku bahwa ia ingin dicintai sebagaimana ia mencintai seorang gadis. Ia bilang ia mulai lelah tak pernah diindahkan oleh gadis pujaannya itu. Katanya, ia sudah melakukan banyak hal untuk gadis itu. Meninggalkan rumahnya, menemani gadis itu membuat skripsi, membantunya membuat jurnal, hingga ia sempat keteteran dengan skripsinya sendiri. Namun gadis itu tak pernah melakukan apapun untuknya. Lelaki itu merasa lelah dan seakan putus asa. Dia bilang padaku, "Apa yang laki-laki lain miliki, tapi tidak aku miliki sampai-sampai tidak ada yang tertarik padaku?"

       Seorang gadis pernah bercerita kepadaku bagaimana ia begitu menyayangi seorang lelaki. Lelaki itu pernah hadir lebih dari sekedar teman bicara dalam hidupnya. Gadis itu sangat mempercayai lelaki itu, namun tidak sebaliknya. Sebuah salah paham menyelesaikan mereka. Gadis itu tetap bertahan, tapi yang ditahan tetap tak ingin tinggal. Terus menyayangi sang lelaki membuat gadis itu lelah. Katanya, dia ingin ada seorang lelaki yang menyayanginya dan percaya kepadanya, tetap tinggal dan menerima dia apa adanya.

      Satu lelaki yang lain menceritakan kekecewaannya terhadap pasangannya yang dia anggap tak bisa mempercayainya. Laki-laki itu memiliki sebuah kebiasaan buruk yang terus diulang meskipun dia sudah meminta maaf pada gadisnya. Hingga suatu hari mereka memutuskan untuk berpisah. "Bukankah sebenarnya kalian masih bisa bersama? Menurutku kalian sudah bisa saling menerima.", tanyaku padanya. Dia bilang,  "Untuk apa ia menghabiskan waktunya bersama orang yang tidak dia percayai dan terus-menerus curiga. Aku butuh dipercayai kembali."  

       Satu gadis yang lain bercerita bahwa ia sedang menyukai seseorang. Seseorang ini begitu dekat dalam kehidupan sosialnya. Mereka berteman akrab, sering bersama dalam suatu kepanitiaan. Ah siapa sangka perasaan itu tiba-tiba muncul. Nyaman katanya. Tapi gadis itu takut menunjukkan rasa sukanya. "Dia terlalu tinggi untuk kuraih. Aku hanya akan menghambat impian-impian besarnya. dia terlalu hebat untuk aku yang kadang sambat." Gadis itu tak sadar bahwa dia lebih hebat dari yang dia kira. Dia memiliki kontrol diri yang bagus untuk seorang gadis yang sedang menyukai seseorang. 

     Laki-laki yang lain berkata kepadaku bahwa ia menyukai seseorang. Tapi di umurnya yang sekarang, dia lebih ingin fokus terhadap karirnya dan sedikit mengesampingkan masalah suka-menyukai. Dia patah hati ketika mengetahui bahwa gadis yang disukainya ternyata baru saja menjalin hubungan dengan seseorang yang lain. Akhirnya dia memilih untuk menutup akses gadis itu terhadap akun sosial medianya. 

     Gadis lain mengatakan bahwa ia begitu bodoh menyukai seseorang yang mengabaikannya. Padahal mereka dahulu pernah begitu dekat dan secara implisit laki-laki itu menyatakan bahwa mereka memang dekat. Namun, kedekatan mereka berubah. Laki-laki itu mulai menghilang. Tak sepenuhnya hilang memang, tapi dia tak ubahnya patung es yang selalu dingin saat disentuh oleh si gadis. Namun berubah jadi hangat jika disentuh orang lain. Meskipun demikian, gadis itu tak putus asa. Masih menunggu meski yang ditunggu mungkin masih terikat masa lalu.

       Satu laki-laki bercerita padaku bahwa ia sedang disukai seorang gadis. Gadis itu memang tak pernah bilang, tapi laki-laki ini begitu peka dengan sekitarnya. "Lalu apa yang akan kamu lakukan ?" tanyaku. Laki-laki itu menjawab bahwa ia hanya tidak ingin menyakiti orang lain lagi. Sudah cukup baginya di umur yang sekarang untuk main-main dengan perasaan. Banyak yang menyukainya memang. "Aku hanya tidak ingin memberikan apa-apa. Ketika aku sudah menjalin hubungan dengan seseorang aku tidak ingin meninggalkan kesan buruk bagi orang lain. Rasanya ingin menghilang." kata lelaki itu. 

        Gadis lain bercerita bahwa ia sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Seseorang yang baru saja dikenalnya meskipun ia sudah sering mendengar nama laki-laki itu. Namun, ia tak pernah tenang dengan hubungannya. Hantu-hantu masa lalu tak pernah meninggalkan kepalanya. Selalu diselimuti ketakutan akan trauma yang terulang. Ia takut lelaki ini akan meninggalkannya sama seperti tiga orang sebelumnya yang tak bisa lepas dari kenangan masa lalu. Ia tak ingin kehilangan lagi. Tapi berada di lingkungan yang memandang sebelah mata hubungan antara laki-laki dan perempuan yang belum sah menyebabkan hatinya meragu. Yaa, ia ingin mengakhiri hubungan itu, namun belum mampu.


Rumit bukan kisah-kisah yang kuceritakan ? Tidak, tidak rumit jika kau hanya membacanya saja. Tapi sungguh mencintai tak pernah mudah, pun dicintai tak pernah selalu indah. Kadang dicintai justru membuat kita terbebani ketika kita tahu/sadar kita tak bisa membalas hati. Pun sebaliknya, nelangsa ketika mencintai seseorang yang tak bisa memberikan perasaan yang sama. Bahkan, sudah mencintai dan dicintai pun ternyata kita masih perlu rasa percaya. 
Suka-cinta rupanya bukan perihal hati saja, namun juga keputusan. Keputusan untuk berani mengambil keputusan dan melakukannya. Ah, rumitnya. Tapi dibalik itu semua aku tetap percaya bahwa waktu akan menyembuhkan semuanya dan kita akan terbebas dari penjara perasaan bernama cinta. 


100319/11:16am

Thursday, July 26, 2018

Senja Seluma



Senja disini berbeda dengan senja yang biasa ia temui di ibukota. Indah, jingga, dan menenangkan. Sungguh, Maha Besar Tuhan yang telah menciptakan senja begitu cantik di sini. Senja disini seperti seorang gadis menanti lelakinya. Selalu kembali dengan rona jingga yang sama. Mendebarkan, mengesankan. Tak peduli hujan yang muncul siang tadi, senja selalu hadir menyenangkan. Senja yang begitu memikat menjadi pengingat untuk istirahat. Senja seringkali membangkitkan sendu meski tak jarang memunculkan rindu. Senja selalu bisa menderingkan lagu rindu dalam kepalanya. Rindu pada ibukota ? Bukan. Rindu pada sesosok lelaki berpunggung indah yang berada di kabupaten sebelah. Lelaki yang sama seperti senja. Sendu, namun memukau dan membuat rindu.

“Ini senja di Seluma, bagaimana senja di sana ?”
“…”
“Kau tau, aku baru saja bermain-main di pantai, aku bertemu nelayan yang membawa ikan pari. Ini fotonya. Pantainya masih sepi, memang tak sebagus pantai di kota, tapi sungguh menenangkan.”
“…”
“Ah iyaa, tadi aku terjatuh dari sepeda motor.”
“…”
“Kau harus menyempatkan berlibur yaa.”
“Tak bisakah kau diam? Kita disini bukan untuk berlibur.”
“Ah iyaa, maaf…”

Sendu.

Namun, ia memilih untuk mengabaikan perasaan itu. Baginya, sudah sewajarnya laki-laki itu mengatakan demikian karena tanggung jawab yang dipikulnya. Dan ia memilih bahagia bersama teman-temannya. Kali ini saja. Sekali ini saja, meski perih di kakinya semakin terasa.


20180719_17.38

Wednesday, November 2, 2016

Jangan Lupa, Aku Juga Bisa Melupakanmu


     Aku paham betul, kamu dan aku punya hidup masing-masing. Aku punya duniaku (meski sebenarnya aku lebih suka menyebut duniaku adalah kamu), sementara kamu juga punya kehidupanmu. Kita hanya terikat kesepakatan menjalani hubungan asmara. Sebab, aku meyakini kamu juga meyakini perasaan yang sama. Itulah yang membuat kita sepakat. Bahwa selain keinginan memiliki, kita dimiliki oleh sesuatu yang berasal dari hati –cinta. Aku tidak bermaksud melarangmu menjalani apa saja yang ingin kamu jalani. Aku juga paham bagaimana rasanya dilarang melakukan hal yang aku sukai. Aku juga sangat mengerti bahwa setiap orang butuh kebebasan.
     Setiap orang butuh dipercaya agar betah menjaga perasaan yang ia punya. Sebab itu, aku memberimu kesempatan untuk menikmati hari-harimu tanpa aku. Kamu kubebaskan memilih jalan hidup yang ingin kamu lalui. Aku juga tidak akan memaksamu untuk begini dan begitu sesuai yang aku mau. Aku ingin kamu merasa aku adalah kekasihmu. Seseorang yang akan menjadi teman hidup –tempat ber-iya bersepakat menjalani hidup. Namun, kadang kamu terlalu asyik dengan duniamu. Kamu seolah lupa, bahwa aku menanti kabarmu. Kamu seolah lupa bahwa ada seseorang yang selalu ingin tahu keadaanmu. Kadang, kamu tidak mengabariku berhari-hari. Aku masih saja meyakini kamu masih orang yang sama. Seseorang yang aku percaya, bisa menjaga apa yang aku percayakan kepadamu.
     Semakin hari aku merasa kamu semakin berbeda. Kamu tidak semanis dulu saat pertama menyatakan cinta. Kamu tidak seperti dulu saat semua masih awal kita menjalani semua. Kamu menjadi asing bagiku. Kamu bukan orang yang kukenal lagi. Kamu terlalu asyik dengan duniamu sendiri. apa aku lelah dengan semua ini? Tidak. Aku tidak lelah. Karena itu aku masih bertahan memahamimu. Barangkali, beginilah kamu sebenarnya. Tentu itu tidak akan membuatku menyerah. Namun, kamu seharusnya paham, jika kamu benar-benar masih ingin bersamaku, kamu akan menjadi orang yang seperti dulu. Aku juga tidak menuntut hal yang berlebihan. Aku hanya ingin tetap bertukar kabar. Menjaga komunikasi agar tidak ada salah paham dalam hati. Jangan menghilang, seolah aku tidak pernah menunggumu pulang.
     Aku tidak menuntut banyak. Lakukanlah sewajarnya. Sebab aku adalah kekasihmu. Orang yang selalu mencemaskan keadaanmu saat kamu tak ada kabar. Jangan buat aku lelah. Lalu, aku memilih menyerah. Berlakulah seperti sebelum kita terasa jauh seperti ini. jika kamu memang masih berkeinginan kita utuh menjaga dua hati. Ingatlah, bahwa aku selalu mengingatmu. Sungguh aku tidak ingin menyerah dan membiarkan semuanya menjadi masa lalu. Aku masih ingin memperjuangkan kita. Aku masih ingin mencintai kamu saja. Namun, aku manusia yang ada batas lelahnya juga. Jangan lupa, aku juga bisa melupakanmu.


Boy Candra | 15/02/2015
Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai

Sunday, October 16, 2016

and I will try to fix you

And I will try to fix you.
Coldplay – Fix You

Rabu malam, 17 Februari 2016. Aku berusaha keras mengingat kembali materi apa yang telah diberikan dosenku. Semester pertama ini benar-benar berat untukku. Libur panjang setelah lulus SMA kemarin benar-benar liburan untukku. Tak sekalipun aku menyentuh buku-buku latihan soal seperti beberapa bulan menjelang ujian akhir. Inilah akibatnya, aku tak dapat menerima materi yang diberikan oleh dosenku di semester pertama ini. Padahal sebenarnya materi-materi yang beliau berikan sedikit banyak sudah pernah aku dapatkan saat SMA. Kebiasaanku selama semester pertama ini pun buruk. Bagaimana tidak? Hampir setiap sesi kuliah aku tertidur. Yaa... kebiasaan selama masa orientasi telah membuatku seperti ini. Dan akhirnya waktu ujian akhir semester satu pun tiba. Aku kelabakan. Hanya seujung kuku materi yang aku bisa. Disinilah aku sekarang, dalam kamar, berkutat dengan berlembar-lembar soal matriks dan kertas coret-coret di saat teman-temanku bercanda ria di ruang tv.
Aku mencoba mengerjakan satu soal. Soal itu memintaku mencari general invers dari sebuah matriks. Sebenarnya sudah berkali-kali aku menemukan soal semacam ini, tetapi tetap saja aku jarang mendapatkan hasil yang tepat. Kurang teliti adalah kelemahanku. Berkali-kali kucoba, aku tetap tak menemukan jawaban yang seperti didapatkan oleh temanku tadi sore. “Tuhan, serumit inikah?”
Frustasi, aku mengambil makanan ringan di sudut kamar. Kata mamaku, “kamu ga akan bisa mikir kalau perut kamu lapar.” Yaa aku berharap setelah makan aku bisa kembali fokus dan teliti. Satu menit, dua menit, sampai makanan ringan itu habis, aku memainkan ponselku. Ini adalah kebiasaan burukku dalam satu semester ini. 
Ting.... sebuah pesan masuk ke ponselku. Aku mengerjap. Kulirik jam dinding, 10.30. Aku mengambil handphone yang tergeletak di samping buku aljabar linear. Setelah makan cemilan tadi aku kembali membaca ringkasan materi lalu ketiduran dengan posisi masih memegang pensil dan ringkasan materi. Aku melihat nama pengirim pesan, Rama.
 “Mell...”
“Dalem”
“Aku pernah sakit, bekasnya sangat dalam dan selalu tiba-tiba muncul, tolong bantu aku sembuh.”
“Aku bisa bantu dengan cara apa?”
“Kamu tau caranya. Aku serius. Yang aku rasakan bukan susah move on atau ingin balikan, ini sakit Mell. Jadi tolong jangan samakan dengan orang yang dulu. Kamu....”
“Aku harus bagaimana untuk membantu kamu? Kamu ingin aku bagaimana?”
“Tetap seperti sekarang yang selalu hibur aku. J kamu seperti ini saja aku sudah senang. Maaf kalau aku menuntut sesuatu tapi aku tidak memaksa kamu kok“
“Iyaa aku coba J. Tak apa, aku mengerti.”
“Tidur Mell, maaf aku ngelantur. Tapi ini saatnya aku keluarkan semua yang dahulu.”
Aku tak terlalu paham dengan apa yang dimaksud Rama. Aku menanggapi perkataan Rama dengan denotatif. Sesaat setelah itu aku membuka profil akun sosial Rama, di sana tak lagi terpasang fotonya bersama Iswari. Aku membaca kembali pesannya. Otakku memutar mencari makna perkataannya.
Dia ingin aku tetap bersamanya, dia ingin aku membantunya melupakan kenangan buruknya bersama Iswari. Dia ingin aku tak menyamakannya dengan lelaki yang mendekatiku sebelumnya. Dia ingin...

Lamat-lamat terdengar suara lagu Fix You dari kamar sebelahku. “Iya Ram, I will try to fix you” kataku dalam hati dan aku kembali terlelap. 

Sunday, January 24, 2016

Catatan yang Berserakan



Hai
Bagaimana kabarmu ? Kudengar kau sudah bersama wanita itu sekarang. Aku turut bahagia mendengarnya.
Hari ini entah kenapa aku begitu ingin menuliskan ini. Rangkaian kalimat yang sering muncul dalam kepalaku namun tak pernah berhasil kutuliskan. 

Terima kasih karena kau telah mengambil keputusan itu. Dahulu aku hancur mendengarnya. Iyaa hancur, pulih kembali, namun hancur lagi. Begitu terus berbulan-bulan. Terlebih ketika aku melihat bulan bersinar saat malam. Aku berusaha tidak melihat bulan lagi, kau tahu ? Rasanya duniaku runtuh setiap aku melihat bulan, purnama terutama. Tapi sudahlah itu dahulu, berbulan-bulan kemarin. Sekarang aku telah berhasil menguasai duniaku kembali. Mengambil hikmah dari setiap keputusan yang telah kau buat. Tersenyum setiap melihat potretmu. Tidak seperti bulan-bulan kemarin dimana aku selalu berurai air mata setiap melihat potretmu. Yaa, tersenyum memang akan membuat perasaanmu yang kacau menjadi lebih baik, seperti yang pernah kubilang padamu dulu, kau ingat? 

Kemarin aku membaca ulang conversation kita. Ternyata rasanya berbeda. Jika dahulu aku membacanya penuh rasa bahagia, lalu membaca dengan rasa terpuruk dan hancur beberapa bulan ini, sekarang aku membacanya dengan tersenyum penuh positive thinking dan rasa pengertian mendalam. Yaa sebuah pelajaran hidup aku dapatkan kembali. Melepaskan mungkin memang sulit, tapi ikhlas akan mempermudahnya. 

Masih jelas dalam ingatanku betapa syoknya aku ketika aku melihat foto profilmu di salah satu media sosial berubah menjadi potret wanita itu. Saat itu aku baru saja selesai mengerjakan midtest sebuah mata kuliah. Soal-soal dalam mata kuliah tersebut di luar prediksiku-kecewa-ditambah dengan menyaksikan sesuatu yang sangat tidak ingin aku saksikan itu. Tapi sudahlah itu dahulu, dan sekarang aku tersenyum mengingat kejadian itu. 

Semakin hari aku semakin sadar bahwa tidak seharusnya aku begitu mudah hanyut dalam perasaanku dulu. Seharusnya aku mengerti dan mendengarkan kata-kata sahabatku tentang apa yang harus aku lakukan. Merasa bodoh sekali aku sekarang. Ahh biarlah, bagaimanapun dulu perasaan itu membuatku bahagia dan bersemangat. Meskipun jujur, aku tahu hal ini akan terjadi. Namun aku tak pernah memercayai kata hatiku itu. Karena aku percaya kau bisa membuatnya lebih baik. Karena aku percaya suatu hari nanti kau akan melihatku. 

Terima kasih, kau benar. Jika kita masih mempertahankan apa yang kita punya berbulan-bulan yang lalu, mungkin kita akan sama-sama tersakiti. Kau benar, disini aku bisa lebih dekat dengan teman-temanku. Kau benar, aku mengenal orang-orang yang siap menolongku kapanpun aku butuh di sini. Meskipun sebenarnya aku ingin memiliki orang yang selalu mengharapkan dan merindukan aku untuk segera kembali ke kotanya sehingga hal itu menjadi sebuah semangat yang membuatku mengejar prestasi agar dapat kembali ke kota itu. Tapi sudahlah, orang yang kutemui di sini juga tak kalah memberiku semangat untuk meraih hal tersebut. 

Terima kasih, kau telah memberi warna di hidupku dan mengajarkan aku pelajaran hidup untuk selalu bersyukur atas apa yang terjadi dan telah kita dapat. Mengingatkanku bahwa segala hal yang terjadi pasti memiliki hikmah. Mengingatkanku bahwa setiap tindakan itu memiliki konsekuensi. Dan berbagai palajaran yang lain. Terima kasih, engkau yang pernah menjadi tokoh utama dalam film perjalanan hidupku -meskipun singkat.


24-01-2016

11:55 am

Tuesday, December 8, 2015

Lelaki Ombak

Kau memang seperti bulan. Selalu muncul dalam gelap. Selalu bersinar meskipun semu. Selalu tersenyum meski pilu. Selalu menunjukkan kebahagiaan meski perasaanmu tak tentu.

**

Srrppt....aku menyeruput kopi di cangkirku dalam diam. Aku sedang berada di balkon rumahku sekarang. Dengan cangkir kopi dan cawan di tangan, aku mengamati pemandangan di sekitarku. Sepi. Tak menarik. Hanya ada rumah-rumah yang entah masih berpenghuni atau tidak dan... bulan. Malam ini bulan purnama, sangat terang, sangat indah. “Karena bulan akan selalu mengingatkan aku tentangmu.” Kalimat itu refleks terdengar. Aku menggeleng cepat.
“Tidak, kau tak boleh memikirkannya lagi. Kau harus sadar siapa pasanganmu sekarang. Dan itu bukan dia.” bibirku bicara. “Lebih baik aku masuk.”

Aku mengambil ponselku untuk mengirim pesan singkat kepada kekasihku –berharap ini dapat menyadarkanku tentang kenyataan. Namun bukannya mengetik pesan singkat, jariku malah membuka album foto dan mencari foto gadis itu. Aku terpaku melihat gadis itu sedang tersenyum dalam foto. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Sungguh. Sakit sekali rasanya ketika melihat gadis itu tersenyum seperti itu. Senyum bahagia yang begitu tulus mengalir dari hatinya saat pertemuanku dengannya di alun-alun beberapa minggu yang lalu. “Tersenyumlah, suasana hati dan pikiranmu akan lebih baik setelahnya.” Suara gadis itu mengiang di telingaku, memaksaku untuk menaikkan ujung-ujung bibirku. Aku harus menghubungi gadis itu lagi, ya, harus. Aku mencari nomor telepon gadis itu dan akan menekan tombol call sebelum akhirnya memutuskan untuk mengiriminya pesan singkat saja.

“Hai, coba keluar, bulan malam ini sangat indah.” Ketikku dalam pesan singkat. lima belas menit berlalu tanpa balasan. Kuketik pesan lagi, “Bagaimana kabarmu?” lebih dari 15 menit aku menunggu hingga gadis itu membalas. “Iyaa terima kasih sudah memberitahuku tentang bulan purnama ini, meskipun aku sudah tau. Aku baik-baik saja.” 

“Benarkah? Aku lega kalau begitu.
J Kamu tidak lupa denganku kan? hehehe”

“Tidak, tapi aku otw melupakanmu. Wkwk” 

Ya Tuhan, dia mulai melupakanku, aku menjerit dalam hati. Sebenci itukah kamu padaku hingga kamu harus melupakanku? Tapi yah, aku memang salah.

“Hmm begitu, maaf aku mengganggu prosesmu melupakan aku. Aku hanya ingin meminta maaf. Sungguh, aku tak bisa tenang. Aku selalu merasa bersalah sudah membuatmu menangis malam itu. Aku belum dapat memaafkan diriku sendiri karena itu.” Aku menekan tombol send dan meletakkan ponsel di sebelahku. Diam. Hening. Berharap dia cepat membalas pesanku, meskipun rasanya aku tak sanggup lagi membalas pesannya.

Setelah 10 menit tak ada balasan, kuputuskan untuk mulai mengerjakan tugas kuliahku. Dengan hati tak tentu pastinya, aku mulai menggambar. Yah gambar, aku mahasiswa arsitektur. Aku berusaha menggambar tugas desain yang diberi dosenku tadi pagi. Setiap aku menggoreskan pensilku justru gambar abstrak yang terbentuk. Lebih dari setengah jam aku seperti itu. Aku menyerah, rasanya akku tak bisa menyelesaikan tugas ini sebelum pesan singkatku dibalasnya. Berkali-kali aku melirik handphoneku berharap ada pesan singkat darinya. Mungkin dia sudah tidak ingin berkomunikasi denganku lagi, kataku dalam hati. Kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Aku menyerah.

Lagi-lagi gadis itu. Mengapa aku tak bisa mengalihkan perhatianku darinya Ya Tuhan? Aku selalu merasa bersalah padanya. Menyakitkan sekali rasanya ketika tahu gadis tangguh yang selama ini kukenal itu menangis. Dan dia menangis karena aku. Maafkan aku bulanku. Aku tak ingin kau bergantung padaku, lelaki yang tak bisa memberikan seluruh cintanya padamu.

“Tak perlu berlebihan seperti itu, aku sudah memaafkanmu. Belum bisa memaafkan dirimu bukan berarti kamu tak bisa memperbaiki diri kan? Perbaiki dirimu saja terlebih dahulu. J” gadis itu membalas satu setengah jam kemudian.


Di luar sana, bulan purnama tertutup cumulonimbus. 

Saturday, December 5, 2015

Gadis Bulan

Sebesar dan sekuat apapun ombak yang menghampiri pantai, pada akhirnya akan kembali ke lautan. Mengikis pasir dan hanya menyisakan jejak basah.
**


“Mas, coba liat bulan malam ini. Indah, terang sekali.” Kata gadis itu sambil menggamit lengan lelaki di sampingnya dan melihat langit.
“Iyaa, kamu benar. Bulan malam ini indah sekali. Sudah lama aku tak melihat bulan seindah ini.” Jawab lelaki itu sambil mengikuti arah pandangan gadis itu. “Terima kasih yaa.” Lanjutnya kemudian, sambil menatap manik kecil itu. Manik yang ditatap pun ikut menatap sepasang manik cokelat itu dalam keremangan.
“Rasanya aku ingin selalu menatap bulan, karena bulan akan selalu mengingatkan aku tentangmu.” Bisik lelaki itu lembut. Bibir gadis itu tersenyum, hangat.
**

Malam ini gadis itu berada di kamar kecilnya, sendirian. Benar-benar sendirian. Tak ada teman yang dapat dia hubungi untuk sekedar bercerita tentang suasana hatinya saat ini. Remuk. Mulutnya pun tak mampu bercerita sendiri sebagaimana biasanya ketika dia bersedih. Entah sudah berapa banyak tisu yang dia gunakan untuk menghapus air matanya. Dan sepertinya mata itu sudah tak ingin menumpahkan air lagi untuk ditampung di lembaran tisu. Hanya menatap kosong ke dalam cermin yang tergantung di depan tempat tidur.

Perlahan, sebuah penggalan film tentang hidupnya terputar di depan mata. Sangat jelas bagaimana beberapa hari yang lalu seorang lelaki datang ke rumahnya untuk mengantarkan hadiah ulang tahun. Terlalu biasa? Memang. Tapi tidak bagi gadis itu. Dia sangat menyukainya. Lelaki muda yang masih sibuk dengan tugas kuliahnya rela mengorbankan sedikit waktu untuk menemuinya di hari ulang tahun. Itu sangat istimewa di matanya. Hari itu dia sangat bahagia.

Mata kecil itu berkedip. Masih teringat jelas bagaimana perasaannya kemarin saat lelaki itu tiba-tiba ingin menjauhinya. Tak ada angin, tak ada badai, tapi lelaki itu ingin pergi. “Aku menyayangimu, dan aku tahu kau juga menyayangiku. Tapi kita tak bisa seperti ini terus. Aku merasa berdosa padamu dan juga padanya.” Kata lelaki itu. Gadis itu sangat terpuruk ketika itu. Air mata yang memenuhi matanya tak bisa ia keluarkan dengan leluasa karena ada banyak orang di sekitarnya. Yah, dulu gadis itu memang pernah meminta hal ini –meminta lelaki itu menjauhinya. Tapi itu dulu, sebelum perasaan itu mekar dalam hatinya.

Saat itu lelaki itu baru saja mengakhiri hubungannya dengan teman gadis itu. Ada rasa bersalah dalam benak gadis itu ketika si lelaki mendekatinya. Tapi bagaimanapun, dia ingin bahagia. Namun baru sebentar gadis itu berbahagia, laki-laki itu memutuskan untuk kembali pada kekasihnya dahulu –teman gadis itu. Dia mengatakan pada lelaki itu bahwa dia akan baik-baik saja, tapi kenyataannya sebaliknya. Gadis itu tak bisa fokus pada ujiannya ketika itu. Gadis yang semula ceria dan banyak bercerita itu menjadi pendiam dan sering melamun.

Beberapa hari kemudian lelaki itu menghubunginya lagi dan mengatakan ingin tetap dekat dengannya. Sungguh dalam hati rasanya gadis itu ingin memaki laki-laki ini. Sudah memiliki temannya namun tetap ingin mendekatinya. Dasar lelaki egois. Tapi keinginannya untuk berbahagia melebihi itu. Gadis itu pun kembali seperti semula. Bahagia, riang,  dan banyak bicara. Meskipun dalam hati dia merasa bersalah dan merasa hal ini tak akan lama.

Keduanya sangat menjadi sangat dekat. Saling berkirim pesan setiap hari. Bahkan jika kau membaca conversation antara mereka, kau akan mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Begitu dekat, hangat, dan bahagia. Saat gadis itu ulang tahun, lelaki itu mengunjunginya di rumah untuk sekedar memberikan sebuah kado. Padahal gadis itu tahu benar bahwa lelaki itu tengah sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya.  Sebuah hal yang istimewa bagi gadis itu karena tak ada yang pernah melakukan ini sebelumnya bahkan kekasih gadis itu dahulu.

Benar rupanya bahwa kebahagiaan itu semu, seperti cahaya bulan –hal yang sangat disukai gadis itu. Malam itu, bulan bersinar terang di langit. Gadis itu tengah berada di area pemakaman salah seorang kyai yang sering diziarahi orang-orang ketika lelaki itu mengutarakan keinginan untuk menjauhi gadis itu. “Aku ingin kau mencari orang yang lebih baik daripada aku, yang hanya mencintaimu. Seandainya nanti kau tidak menemukannya atau setelah menemukannya ternyata kau lebih mencintaiku, kau boleh kembali padaku.” Tulis lelaki itu dalam pesannya. “Apa maksudmu mengatakan ini padaku? Kau gila? Kau pikir semudah itu melepaskan orang yang kau cintai untuk mencari orang lain? Egois sekali dirimu, setelah selama ini aku menerimamu bahkan menjadi “selingkuhanmu” sekarang kau ingin melepaskanku begitu saja? Kau bilang dari dulu kau menginginkanku? Kenapa sekarang justru kau ingin melepaskanku? Kalau kau lebih memilih dia, mengapa kau tak bisa tegas mengatakan itu padaku sejak dulu?” Maki gadis itu dalam diamnya. Ingin sekali gadis itu memaki sang lelaki dengan kata-kata itu. Namun hanya “Apa kau yakin dengan keputusanmu itu?” yang berhasil dikirimnya dalam pesan singkat. Remuk. Hancur.  “Maafkan aku, sabarkan dirimu ya. Percaya saja akan ada waktu untuk kita bersama, setidaknya untuk memenuhi janji kita berjalan berdua di Malioboro. Aku percaya kamu gadis yang kuat dan tangguh.” Balas lelaki itu. Dan air mata kembali tertahan dalam kelopak mata gadis itu.


Air mata kembali bergulir menyusuri pipi gadis itu. Masih di depan cermin, gadis itu memperhatikan wajahnya sendiri lekat namun kosong seolah dia sedang berhadapan dengan si lelaki. “Kau memang seperti ombak. Menenangkan, menghanyutkan. Selalu mencari pantai. Namun tak pernah menetap di pantai itu. Selalu menuju pantai. Namun akhirnya kembali ke laut. Mengikis pasir. Menyisakan basah. Dan menghampiri hanya untuk melukai.” ... 

Wednesday, September 3, 2014

Hening di Ujung Jalan




“Fyuh, mogok lagi. Bagaimana bisa aku pergi ke sana kalau mobilku seperti ini? Mana sepi lagi!” Umpat seorang pria sambil menendang sebuah mobil mewah warna merah yang dibawanya. Pria itu lalu mengeluarkan sebuah handphone keluaran terbaru yang didapatnya beberapa hari yang lalu dan dengan cepat menghubungi sebuah bengkel yang sudah menjadi langganannya.
“Maaf Pak, hari ini kami tutup.” Begitu suara yang ia dengar dari seberang sana. Dengan kesal dia menutup telepon. Dia sedang berusaha menghubungi bengkel lain ketika tiba-tiba teleponnya mati. Low battery.
“Sial!” umpatnya sambil menyandarkan diri pada pintu kursi kemudi. Jari telunjuk tangannya mengurut dahi sedangkan ibu jarinya mengurut dagu. Tangan kirinya diletakkan melintang di atas perut.
Sebenarnya hari ini pria itu akan menghadiri sebuah rapat bersama rekan setimnya untuk membahas pemilihan umum yang sedang berlangsung. Pria itu termasuk tim sukses salah satu pasangan capres-cawapres dari kelima pasang peserta pemilu tahun ini. Dalam rapat nanti rencananya mereka akan membahas tentang berhasilkah strategi yang mereka pergunakan untuk memenangkan pasangan capres-cawapres; sebut saja pasangan X. Pagi tadi sebelum matahari terbit, dia –juga anggota tim sukses yang lain – sudah menyebar orang untuk memenangkan pasangan X.
Pria itu hendak melihat jam tangan Rolex miliknya saat ia melihat seorang tukang becak sedang mengayuh becak ke arahnya. Dia menunggu tukang becak itu mendekat dan memberhentikannya.
“Pak, bisa tolong antarkan saya ke Gedung Y ?”
“Oh, iya pak bisa. Silahkan.” Jawab tukang becak sambil turun dari becaknya.
“Sebentar ya pak, saya ambil tas saya di mobil dulu.”
“Silahkan Pak.” Tawar tukang becak sambil menunggingkan becaknya ketika pria itu selesai mengambil tas dan mengunci mobilnya.
“Terima kasih, pak.” Sahutnya sambil naik ke becak tersebut.
“Iya pak, sama-sama.” Jawab tukang becak yang kemudian mulai mengayuh becaknya lagi ke arah Gedung Y.
Gedung Y merupakan gedung yang digunakan sebagai kantor kerja partai politik yang mengusung pasangan X. Di gedung itulah mereka dulu mendeklarasikan diri sebagai capres dan cawapres. Sehingga gedung ini kemudian digunakan sebagai tempat berkumpulnya timses pemenangan pasangan X. Gedung ini terletak di ujung Jalan Mangga.
Sebenarnya untuk menuju ke gedung ini bisa melewati jalan besar. Tapi pria itu tak ingin melewati jalan utama. Selain untuk menghindari operasi petugas, dia juga tidak ingin terjebak macaet oleh orasi dari simpatisan pasangan X yang sedang menggelar aksi damai di sekitar Gedung Y.
Pria itu mengamati tukang becak yang mengantarnya. Karena tak menemukan yang dia cari, dia lalu bertanya pada tukang becak itu.
“Nggak ikut nyoblos, Pak?” tanya pria itu dengan nada sedikit angkuh.
“Wah tidak Pak.” tukang becak itu menjawab dengan santun.
“Kok nggak ikut kenapa pak?”
“Kalau saya nyoblos, saya nanti tidak kerja, kalau saya tidak kerja saya tidak punya uang, ya saya nanti tidak bisa makan.”
“Tapi satu suara itu penting buat menentukan kehidupan negara kita selanjutnya.”
“Walah pak, pak. Mikir kok mikir negara, lha wong mikirke perut saya dan keluarga saya saja sudah susah.”
“Memang anaknya bapak ada berapa?”
“Anak saya dua, yang pertama perempuan, yang kedua laki-laki.”
“Masih sekolah semua pak anaknya?
“Walah pak, kula niku tiyang alit, mboten gadhah artha damel nyekolahke.”jawab tukang becak polos.
“Berarti anaknya gak sekolah semua, Pak? Gimana kehidupan bapak bisa layak kalau anak bapak saja tidak sekolah?” Pria itu bertanya dengan nada menyindir.
Tukang becak itu tersenyum tipis mendengar pertanyaan pria itu.
“Anak saya sekolah kok pak, tapi yang pertama cuma lulus SD terus kerja. Kalau yang kedua masih kelas 6 SD.”
“Memang anaknya bapak yang pertama sekarang umur berapa? Kenapa bukan ibunya saja yang kerja?”
“15 tahun pak.” Tukang becak itu diam sejenak. “Istri saya sudah meninggal 5 tahun yang lalu.”
Hening.
Tukang becak itu mengelap keringat yang membasahi wajah dan leher gelapnya. Siang ini begitu terik. Langit tak berhias gumpalan awan gelap. Hanya ada matahari berteman awan tipis yang jarang.
“Pak, kenapa anak bapak tidak melanjutkan sekolah? Kan sekarang ada beasiswa miskin?” Pria itu bertanya lagi.
“Apa kalau sudah dapat beasiswa miskin itu sekolah gratis? Tidak pak.” Kembali tukang becak itu menyunggingkan senyum tipis.
“Ya gratis lah pak, kan pemerintah sudah memutuskan begitu.” Pria itu menjawab dengan sedikit emosi.
“Ah itu kan teorinya saja, kenyataannya untuk mencari surat keterangan miskin saja sulit. Anak saya yang pertama mau mendaftar SMP, masih diminta biaya pendaftaran, biaya administrasi, seragam, buku pelajaran. Belum lagi sepatu, tas, buku tulis, dan biaya transportasi ke sekolahnya itu juga mahal.”
“Ya kalau itu memang begitu, Pak. Masak semuanya dibayari pemerintah?” sahut pria itu tak mau kalah.
“Saya tahu, lalu bagaimana dengan anak kedua saya yang tetap disuruh membeli buku pendamping pelajaran dan LKS, padahal seharusnya mendapat buku pinjaman dari sekolah. Kalau dia tidak punya buku dia tidak boleh ikut pelajaran. Itu baru masalah buku, akhir tahun nanti sekolah anak saya mau mengadakan wisata dan semuanya harus ikut. Itu bagaimana?” Tukang becak kembali bertanya pada pria itu
Pria itu terkejut mendengar jawaban tukang becak.
“Masak seperti itu pak, kan ada aturan kalau tidak boleh menjual buku, lks, dan meminta pungutan lain?” pria itu masih tak percaya.
“Anda tidak tahu pak, aturannya memang begitu tapi ternyata, semua melenceng dari aturan.” Jawab tukang becak tetap santun dengan senyum samar di bibirnya.
Pria itu tertegun. Kata-kata santun dan polos tukang becak itu membuatnya terpana, tak disangkanya ternyata selama ini hal itu benar-benar terjadi.
“Nah makanya itu pak, harusnya bapak tadi ikut milih presiden, milih pasangan X biar bisa merubah keadaan.”
Tukang becak itu terdiam sejenak, tangannya mengusap keringat yang mengalir dari wajah dan lehernya menggunakan handuk biru tua lusuh yang setia menggantung di leher gelapnya. Kakinya tetap mengayuh becak sumber penghidupannya.
Tukang becak itu dahulu tidak seapatis sekarang. Bahkan dia termasuk simpatisan fanatik sebuah parpol. Kehidupannya dahulu pun tidak sesulit sekarang. Dahulu dia termasuk ornag yang berkecukupan –kalau tidak bisa dibilang kaya. Namun, semua berubah ketika negara api menyerang 5 tahun yang lalu. Yah, rumahnya ludes terbakar bersama istri yang sangat dicintainya. Dia baru saja pulang dari rapat tim sukses pasangan capres-cawapres parpolnya ketika dia mendapati rumahnya luluh lantak terbakar. Dan dia menemukan jasad istrinya hangus di dalam puing rumah itu. Tetangga dan mobil pemadam kebakaran pun sudah berusaha memadamkan api, namun tak berhasil. Semua hartanya habis tak bersisa. Hanya apa yang menempel di tubuhnya dan kedua anaknyalah harta yang masih dimilikinya. Anaknya memang tak berada di rumah pada saat kejadian. Setelah kejadian itu, beberapa tetangga dengan baik hati memberikan makanan, pakaian, dan tumpangan tempat tinggal sementara untuk mereka bertiga.
Dua hari setelah kejadian itu, dia pergi ke kantor parpol kebanggaannya. Di sana dia meminta bantuan untuk dapat tetap hidup. Bukannya dibantu, dia malah diusir dengan alasan parpol tak bisa membantu apa-apa. Dia menghubungi rekan-rekan setimnya untuk meminta bantuan. Mereka tak banyak membantu, hanya dua orang yang memberikan uang sekadarnya untuknya.
Dia kecewa terhadap parpol itu, tak disangkanya parpol yang selama ini dibanggakannya, dibelanya mati-matian tak bisa memberikan bantuan kepadanya. Sejak saaat itu dia benci partai politik manapun. Berpartisipasi dalam pemilihan umum pun dia tak mau. Dia beranggapan siapapun yang terpilih tak akan mengubah banyak kehidupannya. Hanya dia yang bisa mengubah kehidupannya agar seperti dahulu lagi dengan bekerja. Seorang juragan becak dikampungnya menawari pekerjaan untuk menjadi tukang becak. Dia menerimanya dan itulah sumber penghidupannya sampai sekarang.
“Pak, apakah kalau saya memilih pasangan X kehidupan saya jadi lebih baik daripada sekarang?” tanya tukang becak setelah beberapa saat terdiam.
“O iya pasti, pasangan X itu punya visi dan misi yang akan menyejahterakan kehidupan semua rakyat. Mereka akan menciptakan jutaan lapangan kerja, pendidikan gratis, layanan kesehatan gratis dan masih baanyak lagi. Hidup rakyat pasti sejahtera kalau pasangan X yang jadi presiden.” Jawab pria itu dengan semangat menggebu-gebu.
“Apakah bapak yakin dan bisa menjamin itu?” Tanya tukang becak pada pria angkuh itu.
“Oiya tentu, saya percaya dan berani jamin kalau mereka bisa menyejahterakan rakyat.” Jawab pria itu tak mau kalah.
“Pasangan presiden yang sekarang pun dahulu menjanjikan demikian. Tapi kenyataannya pendidikan masih mahal, pengangguran tetap banyak, layanan kesehatan gratis dipersulit. Untuk mendapatkan jaminan kesehatan saja kita mesti membayar setiap bulan, padahal janjinya semua benar-benar gratis.” Tukang becak itu mengungkapkan pendapatnya.
“Kalau semuanya gratis ya tidak bisa dong pak, dana negara kan terbatas.” Elak si pria angkuh.
“Kalau memang dana negara terbatas, mengapa dia berani menjanjikan sesuatu yang tidak bisa dipenuhinya? Okelah kalau tidak bisa digratiskan semua. Lalu bagaimana dengan beras miskin yang penuh kutu dan berkapur? Kami memang orang miskin pak, tapi bukan berarti kami bisa diperlakukan seperti itu. Kami manusia pak, bukan binatang peliharaan. Kami butuh makan yang layak.”
“Memangnya bapak pernah mendapatkan beras miskin seperti itu? Pasti bapak hanya nonton tv. Yang diberitakan itu tidak selalu sesuai kenyataan, Pak.”
“Saya tidak akan berkata demikian kalau saya tidak mengalaminya sendiri pak.”
“Ah, itu kan presiden yang dulu, kalau saja bapak hari ini memilih pasangan X dan pasangan X menjadi presiden, semua itu tidak akan terjadi pak. Saya jamin.” Pria angkuh itu meyakinkan tukang becak.
“Bagaimana bapak bisa menjamin kalau semua itu akan terjadi sementara bapak bukan Tuhan, bukan nabi, bahkan bapak bukan paranormal. Tentang kehidupan bapak sendiri saja bapak tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, masih hidupkah bapak satu menit lagi, masih sehatkah bapak satu detik lagi? Bapak tidak tahu kan? Bagaimana bapak bisa menjamin kalau pasangan X mampu menyejahterakan rakyat seperti saya? Jangan takabur pak, jangan sombong, Tuhan tidak suka orang sombong.”
Hening.
Pria itu diam. Tak disangkanya tukang becak yang dianggapnya bodoh, tak berpendidikan bisa mengatakan hal semacam itu. Dalam hening itu, bayangan-bayangan masa lalu melintas di pikirannya. Tentang dia yang menerima suap sebuah mobil mewah yang kini mogok untuk meloloskan kerjasama sebuah perusahaan dengan pemerintah. Tentang jam tangan dan handphone keluaran terbaru yang didapatnya dari pemotongan dana bantuan beras untuk rakyat miskin. Tentang hatinya yang tak pernah tenang dan selalu tergesa-gesa. Tentang jabatan yang didapatkannya dengan cara haram. Tentang dia yang semena-mena dalam jabatannya. Tentang dia yang tak pernah menanggapi masalah-masalah sosial.Tentang strategi pemenangan yang curang. Dan semua hal kotor yang pernah dilakukannya.
Pria angkuh itu teringat betapa dulu kedua orang tuanya selalu berpesan padanya untuk tak menyalahgunakan jabatan. Orangtuanya tak segan untuk menghukumnya ketika dia salah. Mereka telah membesarkannya dengan tuntunan ilmu agama yang kuat. Tapi yang terjadi sekarang adalah anak yang dibesarkan dengan penuh perjuangan, keringat, air mata dan doa itu kini menjadi pejabat yang buta, yang tak mengindahkan nasehat-nasehat kedua orang tuanya yang telah tiada. Dia menjadi buta karena jabatan. Menjadi tuli karena harta. Dan menjadi budak kemewahan dunia.
Tukang becak itu berhenti mengayuh becaknya. Dia turun dari becaknya. Suaranya yang berat membuyarkan lamunan pria yang memintanya untuk mengantar ke Gedung Y.
“Sudah sampai pak.” Kata tukang becak sambil menunggingkan becaknya.
Pria itu terkejut. “Oh iya, terimakasih pak.” Jawabnya sambil turun dari becak. Diambilnya uang 100.000 dari kantong celana dan diberikannya pada tukang becak itu.
“Ini pak ongkosnya, kembaliannya ambil saja.” Katanya kemudian.
“Terima kasih, tunggu sebentar pak. Tukang becak itu mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya dan mengambil empat lembar uang dua puluh ribuan.
“Ini pak, kembaliannya.Maaf saya tidak mau menerima uang yang tidak saya ketahui asalnya, ongkos becak saya untuk perjalanan dari tempat mogoknya mobil bapak sampai di Gedung Y hanya 20 ribu pak.” Kata tukang becak itu sambil menyodorkan uang kembalian si pria angkuh.
“Tapi pak...” pria angkuh itu berusaha menolak kembaliannya.
“Permisi, terima kasih pak.” Sahut tukang becak itu sambil memutar becaknya meninggalkan pria itu dalam diam. Segera tukang becak itu mengemudikan becaknya lagi. Tak sampai 10 meter jarak antara dia dan pria itu, tiba-tiba sebuah dentuman yang sangat keras terdengar. Pria itu terpental. Semua simpatisan di sekitar Gedung Y berlari menuju jasad seorang pria yang baru saja terpental itu. Sementara tukang becak itu hanya memperhatikan dari kejauhan dalam diam. Tak ada yang tahu bagaimana akhir dari kehidupan seseorang.
Hening di ujung jalan.