tetaplah menjadi asing,
agar tentangmu aku tak perlu berpusing.
tetaplah menjadi jauh,
agar rasaku tak kembali jatuh.
tetaplah menjadi tega,
agar anganku tak lagi menggila.
280719-2.16pm
Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts
Sunday, July 28, 2019
Sunday, July 21, 2019
Mencintai Tak Pernah Mudah, Dicintai Tak Selalu Indah (4)
"Aku sudah memutuskan untuk bersamamu."
"Apakah kamu yakin bahwa aku bukan pelarian, pelampiasan, ya sejenis itu ?"
"Apakah kamu merasa apa yang kulakukan untukmu adalah sesuatu yang kubuat-buat ? Aku rasa itu cukup untuk menjawab bahwa kamu bukan pelarian."
***
***
Sebenarnya aku ingin menceritakan perjalanan tiga malam dua hari itu dengan lengkap, tapi sepertinya akan membosankan. Aku cukupkan saja tentang perjalanan itu ya. Perjalanan yang mungkin akan kuingat seumur hidupku (Aku sekarang 22 tahun, yaa mungkin cukup akan kuingat 22 tahun lagi saja. Tidak lebih.) Tentang apa yang terjadi setelah itu, ya kami berempat belas pulang naik angkot dan kereta. Di stasiun, dia minum teh kotak blueberry (sepertinya, entah apa rasanya, warna kemasannya ungu). Dari stasiun menuju tempat tinggal, kami satu mobil, aku di sebelahnya. Kami tidak langsung sampai ke tempat tinggal masing-masing. Kami turun di kampus, lalu berjalan ke tempat tinggal kami. Aku dan dia searah, jadi kami beriringan. Canggung, sedikit. Ada beberapa percakapan basa-basi, hanya saja aku lupa tentang apa. Aku sampai di tempat tinggalku, dan dia melanjutkan perjalanannya, berpisah dengan canggung.
Bersambung,
"Apakah kamu yakin bahwa aku bukan pelarian, pelampiasan, ya sejenis itu ?"
"Apakah kamu merasa apa yang kulakukan untukmu adalah sesuatu yang kubuat-buat ? Aku rasa itu cukup untuk menjawab bahwa kamu bukan pelarian."
***
Aku bermain licik saat itu. Ah bukan licik juga. Hei, menutupi kebenaran untuk permainan di mana kita harus menutupi jati diri kita bukan sesuatu yang salah bukan ? Begitulah, aku yang sebenarnya berperan sebagai Spy, mengeluarkan kartu hitam saat bermain berdua dengannya yang berperan sebagai Resistance. Mungkin muka polos dan sebagai yang lebih tua dibanding pemain lainnya membuat mereka percaya bahwa aku adalah pemegang kartu merah. Takut kalah sebetulnya karena aku membuka jati diriku di awal permainan. Untung ada anak itu yang bisa dijadikan kambing hitam ehehe.
Sambil bermain, sebagian di antara kami memasak dan permainan dihentikan ketika makanan sudah siap. Aku lupa menu hari itu apa, sepertinya capcay. Tidak, aku tidak makan berdua dengannya lagi. Setelah sarapan selesai, briefing pun dimulai. Hari itu kami kembali terbagi menjadi dua tim, satu tim di Desa A dan satu tim di Desa B. Personil di dalam tim ditukar. Aku dan ketiga temanku serta dua orang adik tingkat (iya, salah satunya adalah dia) bertugas di Desa B. Total 6 orang, 3 laki-laki, 3 perempuan.
Perjalanan ke Desa B tidak terlalu sulit sebetulnya. Hanya saja medan yang menanjak membuat kami yang lebih tua menjadi lebih mudah lelah, "Dasar adik-adik gak tahu diri, masa yang sudah tua disuruh naik-naik". Ada beberapa barang yang kami bawa, cemilan, buku, kitab, juga satu bak air. Di tengah perjalanan, ada dua jalur yang bisa kami tempuh, satu jalur yang lebih landai dengan kondisi jalan yang sudah rapi berbatu namun sedikit jauh, dan satu jalur yang terjal dengan kondisi menerobos perkebunan, namun lebih dekat. Di persimpangan itu kami berhenti. Adik tingkat menyarankan untuk menerobos perkebunan karena dia sering lewat situ dan lebih dekat. Aku dan dua teman perempuanku sedikit keberatan karena medan yang terlihat seolah longsor jika kami lewati. Kami pun memilih jalur yang berbeda. Adik tingkat tadi dan teman laki-lakiku memilih menerobos perkebunan. Sementara aku dan teman-teman perempuanku memilih lewat jalur biasa. Satu orang kebingungan harus memilih yang mana. Dengan membawa bak air yang cukup besar, setelah lama memandangi jalur yang harus dipilih, akhirnya dia ikut berjalan di belakang kami melewati jalur biasa. "Biar ada yang jagain juga"
"Jadi gimana pembagian ngajarnya nih?
"Aku mau kelas yang paling rendah ya, TK, SD 123 aja"
"Kamu ngajar ngaji anak-anak yang udah gede aja yaa, aku gak jago nih."
Aku sengaja lambat-lambat dalam memilih. Mengambil pilihan yang tersisa saja. Anak-anak terbagi menjadi tiga kelompok, dua kelompok sudah diambil temanku dan tinggal satu kelompok. Akhirnya aku dan anak itu mengajar kelompok tengah ini. Wangi yang lembut, suara berat dan canggung itu pun semakin akrab tersentuh.
Pembelajaran selesai, saatnya pengumuman pemenang dan juga pembagian hadiah. Ada foto bersama juga, termasuk pengambilan sebuah foto yang di kemudian hari nanti akan jadi sesuatu yang berkesan dalam lingkungan kami.
Pembelajaran selesai, saatnya pengumuman pemenang dan juga pembagian hadiah. Ada foto bersama juga, termasuk pengambilan sebuah foto yang di kemudian hari nanti akan jadi sesuatu yang berkesan dalam lingkungan kami.
Sebelum kembali ke basecamp, kami membersihkan mushola yang baru saja kami pakai. Menyapu, mengepel, yaa semacam itu. Tak disangka kain pel yang kami gunakan luntur dan membekas di tanganku, warna ungu. "bisa hilang gak kak ?" "bisa, cuma gak tau kapan, udah kucuci berkali-kali belum hilang. Udah selesai ? Pulang yuk, aku piket masak nih."
Di perjalanan pulang, kami bertemu ketua RT tepat di spot foto favorit kami. Untuk kenang-kenangan, kami meminta tolong pada pak RT untuk memotret kami. Voila. Dia di sebelahku.
Perjalanan pulang, ia berada di paling belakang barisan. Kali ini kami lewat jalan yang lain, berbeda dengan saat berangkat, menerobos perkebunan, entah akan sampai ke basecamp atau tidak.
Di perjalanan pulang, kami bertemu ketua RT tepat di spot foto favorit kami. Untuk kenang-kenangan, kami meminta tolong pada pak RT untuk memotret kami. Voila. Dia di sebelahku.
Perjalanan pulang, ia berada di paling belakang barisan. Kali ini kami lewat jalan yang lain, berbeda dengan saat berangkat, menerobos perkebunan, entah akan sampai ke basecamp atau tidak.
***
Sebenarnya aku ingin menceritakan perjalanan tiga malam dua hari itu dengan lengkap, tapi sepertinya akan membosankan. Aku cukupkan saja tentang perjalanan itu ya. Perjalanan yang mungkin akan kuingat seumur hidupku (Aku sekarang 22 tahun, yaa mungkin cukup akan kuingat 22 tahun lagi saja. Tidak lebih.) Tentang apa yang terjadi setelah itu, ya kami berempat belas pulang naik angkot dan kereta. Di stasiun, dia minum teh kotak blueberry (sepertinya, entah apa rasanya, warna kemasannya ungu). Dari stasiun menuju tempat tinggal, kami satu mobil, aku di sebelahnya. Kami tidak langsung sampai ke tempat tinggal masing-masing. Kami turun di kampus, lalu berjalan ke tempat tinggal kami. Aku dan dia searah, jadi kami beriringan. Canggung, sedikit. Ada beberapa percakapan basa-basi, hanya saja aku lupa tentang apa. Aku sampai di tempat tinggalku, dan dia melanjutkan perjalanannya, berpisah dengan canggung.
Bersambung,
2:58am.160719
Thursday, July 11, 2019
Mencintai Tak Pernah Mudah, Dicintai Tak Selalu Indah (3)
"Benar kata orang, jatuh cinta itu sekian detik saja bisa, merawatnya yang susah."
***
***
Sabtu sore, aku dan beberapa kawanku yang lain mengajar anak-anak di desa itu. Ada dua desa yang kami kunjungi. Sebut saja desa A dan desa B. Desa A tempat kami menginap penduduknya lebih banyak. Lokasinya pun bisa terbilang lebih mudah dijangkau daripada desa B yang berada di dataran yang lebih tinggi. Kami terbagi menjadi dua kelompok dalam kegiatan ini. Aku di desa A bersama teman-temanku yang seangkatan dan dua adik tingkat. Sedangkan yang lain mengajar di desa B.
Sungguh terasa sekali perbedaan anak-anak di desa dan di kota. Di desa, anak-anak masih sulit menangkap materi pembelajaran yang diberikan. Hanya satu-dua saja yang mampu mengerti dengan mudah. Namun, semangat mereka patut mendapatkan apresiasi. Hadir tepat waktu, berpenampilan rapi, dan menyiapkan alat tulis mereka -yang pada akhirnya aku tahu bahwa kebanyakan dari mereka kekurangan buku tulis. Begitulah, di masjid Desa A yang menjadi titik kumpul warga-warga ini kami bisa berbagi ilmu dengan adik-adik itu. Materi yang diajarkan ? tidak jauh dari materi akademik. matematika, IPA, kebersihan dan kesehatan. Sungguh, rasanya bahagia sekali bisa berbagi dengan mereka. Melihat mereka tertawa, tersenyum, malu-malu, tersipu, bingung, ah banyak sekali ekspresi yang mereka tunjukkan. Tuhan sangat berbaik hati mempertemukan aku dengan mereka saat aku sedang dalam masa-masa kehilangan semangat.
Malam itu kami makan nasi dengan lauk spagetti dan krupuk sebagai pelengkap. Ya, hujatlah, toh yang penting kami makan. Kali ini aku tidak makan bersama anak itu lagi. Dia makan sendirian. Ketika semuanya sudah selesai makan, tinggal aku saja yang belum selesai sampai ditinggalkan oleh partner makanku. "kamu memang harus makan bareng si anu deh biar ada yang nungguin."
"Jadi besok kita tukar ya kak, yang tadi di Desa A, besok ke Desa B."
"Tapi kan aku gak tau kalian tadi mengajarkan apa di Desa B ?"
"Emm gimana ya, oh gini aja kak, kita tukar soal aja, jadi aku buat soal untuk Desa B, kakak buat soal untuk Desa A. nah nanti kita tukar."
"Oke, setuju."
"Eh kak, si anu mau ikut ke desa B lagi yaa. Katanya masih penasaran sama kembang desanya."
Malam itu, adik-adik tingkatku itu bermain kartu Spy-Resistance di homestay kami. Aku sangat lelah dan ingin tidur sebetulnya, tapi mereka masih betah main. Anak itu selalu dituduh jadi orang jahat. Kasihan sekali. Setelah aku mandi dan kurasa terlalu malam untuk mereka main, aku menyuruh mereka pergi.
***
Pagi ini dimulai dengan memotong-motong sayur dan memasak. Tidak, bukan aku yang memasak, aku hanya membantu saja. Adik-adik tingkat itu datang lagi dan memainkan hal yang sama. Awalnya aku tidak tertarik, tapi sepertinya asik.
"Jadi gini kak, ada Spy ada Resistance. Spy bisa mengeluarkan kartu merah dan hitam. tapi Resistance hanya bisa merah. Resistance harus menebak siapa Spy. kakak bisa milih beberapa orang buat diajak main, sesuai ketentuan. poinnya dihitung dari berapa banyak kartu muncul. jika kartu yang muncul semuanya merah, maka satu poin untuk resistance. namun jika kartu hitam muncul, maka satu poin untuk Spy."
"Oke."
"Mulai dari anu ya, pilih satu orang buat diajak main.
"Aku mau ajak kakak."
...
di matamu, aku menemukan binar itu kembali.
hatiku bilang akan menyimpan momen ini.
Bersambung. 1107
hatiku bilang akan menyimpan momen ini.
Bersambung. 1107
Saturday, July 6, 2019
Mencintai Tak Pernah Mudah, Dicintai Tak Selalu Indah (2)
"Kalau disuruh memilih antara dicintai atau mencintai, kamu akan memilih yang mana ?" sebuah pertanyaan masuk ke salah satu akun tanya jawab milikku.
"Buat seorang perempuan, lebih baik ia dicintai daripada mencintai, karena orang yang mencintai akan memperlakukan orang yang dicintai dengan sebaik-baiknya. perempuan itu kalau sudah cinta biasanya susah move on. beruntung jika yang ia cintai adalah orang yang baik, jika tidak ? bisa jadi sakit hati dan mungkin cedera fisik juga kan ? jika perempuan itu dicintai, dia pasti diperlakukan dengan baik oleh laki-laki yang mencintainya. Tapi tak ada salahnya mencintai, karena dengan mencintai, seseorang bisa lebih peka terhadap perasaan orang lain, lebih banyak berbuat baik karena orang yang mencintai selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk yang dia cintai." jawabku saat itu
***
x
x
Tahun terakhirku di universitas begitu banyak kejadian yang mungkin tak bisa kulupakan. Kesibukan non akademik yang bertumpuk diikuti kesibukan akademik saat semester ganjil membuatku kuwalahan. Di tahun terakhir ini aku sekelas dengan seseorang yang sangat aku idamkan sejak masa orientasi. Aku tentu saja bahagia, tetapi sepertinya dia tidak. Ah sudahlah. Setelah dua semester sebelumnya aku benar-benar berjuang untuk sembuh dan hampir berhasil, sekarang dunia seakan mempermainkan aku dengan menyatukan kami dalam satu kelas. Ya benar, kami pernah sedekat Minggu ke Senin sebelum sejauh Senin ke Minggu. Seseorang yang aku sukai, namun masih terbayang trauma masa lalu. Kami tak pernah memulai, pun mengakhiri. Hanya tiba-tiba saja kami tak lagi saling menyapa karena sebuah salah paham dan aku melihatnya bersama gadis lain. Kejadian itu terjadi pada tahun keduaku di universitas. Pada tahun keempat ini, sebut saja hubungan kami sudah membaik kembali meski sesekali pertengkaran kecil tak terhindari. Tidak, kami tidak menjalin hubungan apapun. Aku menyukainya, namun dia masih menyukai gadis itu.
"Kak, bisa ikut peninjauan ?"
"Kapan?"
"Akhir bulan ini kak."
"Baiklah, sepertinya bisa."
Akhir bulan 11 aku mengikuti sebuah peninjauan kegiatan sosial UKM yang aku ikuti. Pesertanya, aku dan 3 orang teman seangkatanku, dan sisanya adalah adik tingkat. Ada satu anak yang tidak pernah kulihat sebelumnya ikut dalam kegiatan ini. Dia memang terdaftar dalam kepanitiaan, tapi melihat batang hidungnya muncul pun seingatku hanya sekali saat rapat persiapan. Dia tidak pernah mengikuti event yang diselenggarakan. Namun, aku sangat hafal dengan anak ini. Bagaimana tidak, karena dia aku harus repot-repot menjelaskan bahkan hampir bertengkar dengan koordinator yang lain dan mitra kami dalam mencari dana kegiatan. Aku pun tak begitu menggubrisnya karena dia juga terlihat pendiam.
Kami berangkat peninjauan pada malam hari. Aku sudah bertemu anak itu lebih dulu di lampu merah yang harus kami sebrangi untuk sampai di titik kumpul. Hampir saja kami tertinggal kereta menuju tempat kegiatan. Syukurlah, Tuhan masih berbaik hati dan merestui niat baik kami. Kami sampai di desa tujuan pada pagi hari. Kami beristirahat sebentar sambil membahas tentang kegiatan kami. Kegiatan yang akan kami lakukan adalah mengajar siswa SD. Ya benar, aku menjadi partner anak itu mengajar. Ragu sebetulnya, yah terima sajalah. Sebenarnya secara fisik anak itu menarik, melihat dia aku merasa seperti melihat orang yang aku sukai sejak masa orientasi tadi. Sejenak aku terpana saat dia mempraktikkan materi yang akan kami ajarkan. Aku jadi tahu tanggal lahirnya dan ternyata kami lahir di bulan yang sama. Selesai briefing, kami sarapan. Sudah menjadi kebiasaan dalam kegiatan kami ini bahwa ketika makan, maka kami akan makan bersama. Satu piring untuk berdua dan biasanya dengan orang berjenis kelamin sama. Sialnya atau justru untungnya, jumlah kami sekarang ganjil dan satu temanku sudah memutuskan untuk makan sendiri. Aku terlambat datang dan hanya tinggal anak itu yang belum mendapat pasangan makan.
"Kak, makan", dia memanggilku.
"Iya." sahutku sambil mengambil tempat duduk di depannya.
Meskipun dia ini laki-laki, namun makannya lambat sekali, sama sepertiku -aku lebih lambat dari dia. Jadilah kami sebagai orang terakhir yang selesai makan. Saat itu, rasa kesalku kepada dia sudah berkurang.
Kami pun menuju sekolah tempat kami akan mengajar. Surprise! Semua rencana tidak bisa dilakukan karena anak-anak sekolah itu sudah pulang. Jadilah kami hanya menemani mereka bermain sepakbola dan kasti. Dia ikut nimbrung bermain sepakbola juga. Hmm, menarik.
Sepulangnya, kami mampir ke rumah Ibu Kepala Sekolah. Di sana kami disuguhi berbagai buah-buahan. Anak itu datang belakangan dan duduk di belakangku. Dia makan buah yang disajikan cukup banyak, jika tidak salah ingat aku sempat menuangkan minum untuknya. Setelah dirasa cukup, kami kembali ke homestay dan makan siang. Lagi-lagi aku harus makan berpasangan dengannya. Kali ini, dia tidak bisa menghabiskan makanan seperti saat sarapan karena sudah kekenyangan makan buah tadi. Tapi tetap kupaksa dia menghabiskan makanan. "Kan kamu laki-laki", kataku.
...
Bersambung.
6719
Friday, May 10, 2019
Layu
mendung menggantung
detak jam berhenti
menatap dalam penuh arti
kaki terpaku pada bumi
jemari meronta hendak pergi
detak jam melambat
membiarkan jemari tertambat
kaki meronta tak kuat
sepasang mata menahan lekat
gelap
tetes air bergelung menunggu jatuh
detak jam tak henti menunggu
hati masih meragu
detak jam mulai tak sabar
kaki melangkah dengan gentar
masih, awan mempermainkan
air bergelung dalam sangkar
detak jam berhenti
menatap dalam penuh arti
kaki terpaku pada bumi
jemari meronta hendak pergi
detak jam melambat
membiarkan jemari tertambat
kaki meronta tak kuat
sepasang mata menahan lekat
gelap
10052019-0:16
Sunday, March 10, 2019
Mencintai Tak Pernah Mudah, Dicintai Tak Selalu Indah
Seorang laki-laki pernah berkata kepadaku bahwa ia ingin dicintai sebagaimana ia mencintai seorang gadis. Ia bilang ia mulai lelah tak pernah diindahkan oleh gadis pujaannya itu. Katanya, ia sudah melakukan banyak hal untuk gadis itu. Meninggalkan rumahnya, menemani gadis itu membuat skripsi, membantunya membuat jurnal, hingga ia sempat keteteran dengan skripsinya sendiri. Namun gadis itu tak pernah melakukan apapun untuknya. Lelaki itu merasa lelah dan seakan putus asa. Dia bilang padaku, "Apa yang laki-laki lain miliki, tapi tidak aku miliki sampai-sampai tidak ada yang tertarik padaku?"
Seorang gadis pernah bercerita kepadaku bagaimana ia begitu menyayangi seorang lelaki. Lelaki itu pernah hadir lebih dari sekedar teman bicara dalam hidupnya. Gadis itu sangat mempercayai lelaki itu, namun tidak sebaliknya. Sebuah salah paham menyelesaikan mereka. Gadis itu tetap bertahan, tapi yang ditahan tetap tak ingin tinggal. Terus menyayangi sang lelaki membuat gadis itu lelah. Katanya, dia ingin ada seorang lelaki yang menyayanginya dan percaya kepadanya, tetap tinggal dan menerima dia apa adanya.
Satu lelaki yang lain menceritakan kekecewaannya terhadap pasangannya yang dia anggap tak bisa mempercayainya. Laki-laki itu memiliki sebuah kebiasaan buruk yang terus diulang meskipun dia sudah meminta maaf pada gadisnya. Hingga suatu hari mereka memutuskan untuk berpisah. "Bukankah sebenarnya kalian masih bisa bersama? Menurutku kalian sudah bisa saling menerima.", tanyaku padanya. Dia bilang, "Untuk apa ia menghabiskan waktunya bersama orang yang tidak dia percayai dan terus-menerus curiga. Aku butuh dipercayai kembali."
Satu gadis yang lain bercerita bahwa ia sedang menyukai seseorang. Seseorang ini begitu dekat dalam kehidupan sosialnya. Mereka berteman akrab, sering bersama dalam suatu kepanitiaan. Ah siapa sangka perasaan itu tiba-tiba muncul. Nyaman katanya. Tapi gadis itu takut menunjukkan rasa sukanya. "Dia terlalu tinggi untuk kuraih. Aku hanya akan menghambat impian-impian besarnya. dia terlalu hebat untuk aku yang kadang sambat." Gadis itu tak sadar bahwa dia lebih hebat dari yang dia kira. Dia memiliki kontrol diri yang bagus untuk seorang gadis yang sedang menyukai seseorang.
Laki-laki yang lain berkata kepadaku bahwa ia menyukai seseorang. Tapi di umurnya yang sekarang, dia lebih ingin fokus terhadap karirnya dan sedikit mengesampingkan masalah suka-menyukai. Dia patah hati ketika mengetahui bahwa gadis yang disukainya ternyata baru saja menjalin hubungan dengan seseorang yang lain. Akhirnya dia memilih untuk menutup akses gadis itu terhadap akun sosial medianya.
Gadis lain mengatakan bahwa ia begitu bodoh menyukai seseorang yang mengabaikannya. Padahal mereka dahulu pernah begitu dekat dan secara implisit laki-laki itu menyatakan bahwa mereka memang dekat. Namun, kedekatan mereka berubah. Laki-laki itu mulai menghilang. Tak sepenuhnya hilang memang, tapi dia tak ubahnya patung es yang selalu dingin saat disentuh oleh si gadis. Namun berubah jadi hangat jika disentuh orang lain. Meskipun demikian, gadis itu tak putus asa. Masih menunggu meski yang ditunggu mungkin masih terikat masa lalu.
Satu laki-laki bercerita padaku bahwa ia sedang disukai seorang gadis. Gadis itu memang tak pernah bilang, tapi laki-laki ini begitu peka dengan sekitarnya. "Lalu apa yang akan kamu lakukan ?" tanyaku. Laki-laki itu menjawab bahwa ia hanya tidak ingin menyakiti orang lain lagi. Sudah cukup baginya di umur yang sekarang untuk main-main dengan perasaan. Banyak yang menyukainya memang. "Aku hanya tidak ingin memberikan apa-apa. Ketika aku sudah menjalin hubungan dengan seseorang aku tidak ingin meninggalkan kesan buruk bagi orang lain. Rasanya ingin menghilang." kata lelaki itu.
Gadis lain bercerita bahwa ia sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Seseorang yang baru saja dikenalnya meskipun ia sudah sering mendengar nama laki-laki itu. Namun, ia tak pernah tenang dengan hubungannya. Hantu-hantu masa lalu tak pernah meninggalkan kepalanya. Selalu diselimuti ketakutan akan trauma yang terulang. Ia takut lelaki ini akan meninggalkannya sama seperti tiga orang sebelumnya yang tak bisa lepas dari kenangan masa lalu. Ia tak ingin kehilangan lagi. Tapi berada di lingkungan yang memandang sebelah mata hubungan antara laki-laki dan perempuan yang belum sah menyebabkan hatinya meragu. Yaa, ia ingin mengakhiri hubungan itu, namun belum mampu.
Rumit bukan kisah-kisah yang kuceritakan ? Tidak, tidak rumit jika kau hanya membacanya saja. Tapi sungguh mencintai tak pernah mudah, pun dicintai tak pernah selalu indah. Kadang dicintai justru membuat kita terbebani ketika kita tahu/sadar kita tak bisa membalas hati. Pun sebaliknya, nelangsa ketika mencintai seseorang yang tak bisa memberikan perasaan yang sama. Bahkan, sudah mencintai dan dicintai pun ternyata kita masih perlu rasa percaya.
Suka-cinta rupanya bukan perihal hati saja, namun juga keputusan. Keputusan untuk berani mengambil keputusan dan melakukannya. Ah, rumitnya. Tapi dibalik itu semua aku tetap percaya bahwa waktu akan menyembuhkan semuanya dan kita akan terbebas dari penjara perasaan bernama cinta.
100319/11:16am
Sunday, February 10, 2019
Yang Baru Saja Hadir
hai,
terima kasih sudah membersamai
sejauh ini
tak pernah lelah menanggapi
obrolan anehku
hai,
terima kasih sudah menemani
sejauh ini
tak pernah mengeluhi
ambisi minim realisasi milikku
hai,
terima kasih sudah bersedia
membagi pundak untuk bersandar,
tangan untuk menggenggam,
menjaga biarpun penuh goda
hai,
terima kasih sudah menerima
dan sepenuh hati percaya
meskipun aku seringkali bertanya
10022019:1759
Yang Tak Kembali
selamat pagi,
masih suka menyeduh kopi ?
hei aku sudah berulang kali bilang padamu, kan ?
kamu bahkan seharusnya lebih tahu soal itu bukan ?
selamat pagi,
masih suka tidur saat dini hari ?
hei, apalagi yang kamu pikirkan itu ?
bukankah semua sudah berlalu ?
selamat pagi,
masih terganggu melihatku ?
tunggulah sebentar lagi,
semuanya akan segera berlalu, bukan ?
selamat pagi,
masih ingat yang kamu bilang padaku ?
katamu, kamu hanya perlu tersenyum
dan memulai hidup baru, bukan ?
selamat pagi,
maaf sudah tak lagi menyapamu
maaf sudah tak lagi menghubungimu
tidak ada keperluan lagi, bukan?
seperti yang kamu bilang dulu
selamat pagi,
semoga harimu menyenangkan
10022019:1747
Sunday, October 7, 2018
Percayalah
Sadarlah nak,
tak usah kau mengejarnya lagi
lupakan dia, apalagi yang kau harapkan dari dia
kau lebih cantik daripada gadis itu, sayang
Cinta itu mahal bukan ?
kamu lebih cantik,
tapi laki-laki itu lebih memilih gadis itu kan
cinta tak melihat itu, sayang
Sudahlah nak,
kau akan mendapatkan yang lebih baik
percayalah
Thursday, September 27, 2018
Enam Minggu
hampir setiap hari bertemu
tapi mata tak pernah beradu
dan masih saja kau bisu
tidakkah kau rindu ?
12.20am
20180927
tapi mata tak pernah beradu
dan masih saja kau bisu
tidakkah kau rindu ?
12.20am
20180927
Tuesday, August 21, 2018
Kembali
hai, bagaimana ?
sudahkah kau menemukan jawaban
mengapa kita dipertemukan
setelah kita berpisah di persimpangan,
berjauhan,
dan berbisuan?
apakah kau bisa kembali hangat
meski orang-orang sekitar menghujat,
atau lidahmu justru bersilat
hingga kita tak lagi dekat ?
20.47
21082018
sudahkah kau menemukan jawaban
mengapa kita dipertemukan
setelah kita berpisah di persimpangan,
berjauhan,
dan berbisuan?
apakah kau bisa kembali hangat
meski orang-orang sekitar menghujat,
atau lidahmu justru bersilat
hingga kita tak lagi dekat ?
20.47
21082018
Thursday, July 26, 2018
Senja Seluma
Senja disini berbeda dengan senja yang biasa ia
temui di ibukota. Indah, jingga, dan menenangkan. Sungguh, Maha Besar Tuhan
yang telah menciptakan senja begitu cantik di sini. Senja disini seperti
seorang gadis menanti lelakinya. Selalu kembali dengan rona jingga yang sama.
Mendebarkan, mengesankan. Tak peduli hujan yang muncul siang tadi, senja selalu
hadir menyenangkan. Senja yang begitu memikat menjadi pengingat untuk
istirahat. Senja seringkali membangkitkan sendu meski tak jarang memunculkan
rindu. Senja selalu bisa menderingkan lagu rindu dalam kepalanya. Rindu pada
ibukota ? Bukan. Rindu pada sesosok lelaki berpunggung indah yang berada di
kabupaten sebelah. Lelaki yang sama seperti senja. Sendu, namun memukau dan
membuat rindu.
“Ini senja
di Seluma, bagaimana senja di sana ?”
“…”
“Kau tau, aku baru saja bermain-main di pantai,
aku bertemu nelayan yang membawa ikan pari. Ini fotonya. Pantainya masih sepi, memang
tak sebagus pantai di kota, tapi sungguh menenangkan.”
“…”
“Ah iyaa,
tadi aku terjatuh dari sepeda motor.”
“…”
“Kau harus
menyempatkan berlibur yaa.”
“Tak bisakah
kau diam? Kita disini bukan untuk berlibur.”
“Ah iyaa,
maaf…”
Sendu.
Namun, ia memilih untuk mengabaikan perasaan
itu. Baginya, sudah sewajarnya laki-laki itu mengatakan demikian karena
tanggung jawab yang dipikulnya. Dan ia memilih bahagia bersama teman-temannya.
Kali ini saja. Sekali ini saja, meski perih di kakinya semakin terasa.
20180719_17.38
Friday, August 18, 2017
Sesederhana Itu
aku bahagia
sesederhana itu
melihat tanda abu itu berubah biru
sesederhana itu
melihat "mengetik" berwarna hijau
sesederhana itu
melihat "bos kecil" dalam penggalan video
sesederhana itu
melihat "online" di bawah tiang
sesederhana itu
Wednesday, August 2, 2017
Musicbox
denting musicbox memecah hening
menyampaikan pesan kepergian lelaki berpunggung indah itu
"aku pergi sekarang"
"cepatlah kembali,
aku ingin kita jalan-jalan"
"maaf aku sibuk
tak suka jalan-jalan"
hening
tak ada lagi denting musicbox
hingga matahari bangun dari lelap tidur
sementara bulan
meski tertutup mendung
tak sedikitpun nampak akan terlelap
menyampaikan pesan kepergian lelaki berpunggung indah itu
"aku pergi sekarang"
"cepatlah kembali,
aku ingin kita jalan-jalan"
"maaf aku sibuk
tak suka jalan-jalan"
hening
tak ada lagi denting musicbox
hingga matahari bangun dari lelap tidur
sementara bulan
meski tertutup mendung
tak sedikitpun nampak akan terlelap
Friday, April 14, 2017
Bila Kau Ingin Tahu
Bila Kau Ingin Tahu
Pergilah ke kotaku
Kau akan menemukan banyak hal baru
Tentang persahabatan yang tak pernah biru
Tentang mimpi yang harus diburu
Tentang rasa yang menjadi abu-abu
karena perbedaan
Ketika kau mengalaminya
Mungkin kau akan bertanya marah
"Mengapa aku dan dia tak bisa bersama?"
"Mengapa aku harus mencintainya?"
dan masih banyak lagi "mengapa"
Hingga akhirnya kau menyadari
Tuhan mengatur semua itu
demi kebaikanmu
untuk menyadarkanmu
atas kesalahanmu
mencintai orang yang membuatmu abu abu
Tuhanmu mencintaimu
tak pernah meninggalkanmu
JKT, 05022017
Monday, January 30, 2017
Bagaimana?
Bagaimana seandainya kamu mati-matian mempertahankan perasaanmu kepada seorang laki-laki yang jelas-jelas sulit untuk kamu miliki sepenuhnya hingga membuatmu mengabaikan teman-temanmu yang sepenuhnya ingin kamu baik-baik saja?
Bagaimana seandainya laki-laki yang kamu sayangi, mengabaikan semua perhatian yang kamu berikan kepadanya ketika seharusnya kamu yang lebih pantas diperhatikan?
Bagaimana seandainya laki-laki yang kamu sayangi, tak lagi menatapmu penuh cinta tapi menatapmu hina dan murka?
Bagaimana seandainya laki-laki yang kamu sayangi, sungguh-sungguh kamu sayangi, perlahan mencampakkanmu karena kamu melakukan suatu kesalahan yang menurutnya mirip dengan kesalahan wanitanya di masa lalu sementara saat itu, kamu tengah setulus hati memberikan semua hatimu padanya dan telah menghapuskan semua kenangan antara kamu dan laki-laki lain sebelumnya?
Bagaimana seandainya laki-laki yang kamu sayangi, mulai menjalin hubungan dengan wanita lain ketika kamu mengira dia sedang sibuk dengan tugas-tugas akademik dan organisasinya ?
Bagaimana seandainya laki-laki yang kamu sayangi, terang-terangan mengatakan kepada sahabatmu bahwa dia menyayangi orang lain selain kamu dan sahabatmu tidak memberitahumu tentang hal ini dengan alasan agar kamu mengetahui sendiri sementara pada saat yang sama kamu tengah mati-matian mempertahankan hubunganmu dengan laki-laki itu?
Jawablah, itulah yang aku rasakan (dan mungkin juga kamu rasakan nanti).
Wednesday, November 2, 2016
Jangan Lupa, Aku Juga Bisa Melupakanmu
Aku paham
betul, kamu dan aku punya hidup masing-masing. Aku punya duniaku (meski
sebenarnya aku lebih suka menyebut duniaku adalah kamu), sementara kamu juga
punya kehidupanmu. Kita hanya terikat kesepakatan menjalani hubungan asmara.
Sebab, aku meyakini kamu juga meyakini perasaan yang sama. Itulah yang membuat
kita sepakat. Bahwa selain keinginan memiliki, kita dimiliki oleh sesuatu yang
berasal dari hati –cinta. Aku tidak bermaksud melarangmu menjalani apa saja
yang ingin kamu jalani. Aku juga paham bagaimana rasanya dilarang melakukan hal
yang aku sukai. Aku juga sangat mengerti bahwa setiap orang butuh kebebasan.
Setiap orang
butuh dipercaya agar betah menjaga perasaan yang ia punya. Sebab itu, aku
memberimu kesempatan untuk menikmati hari-harimu tanpa aku. Kamu kubebaskan
memilih jalan hidup yang ingin kamu lalui. Aku juga tidak akan memaksamu untuk
begini dan begitu sesuai yang aku mau. Aku ingin kamu merasa aku adalah
kekasihmu. Seseorang yang akan menjadi teman hidup –tempat ber-iya bersepakat
menjalani hidup. Namun, kadang kamu terlalu asyik dengan duniamu. Kamu seolah
lupa, bahwa aku menanti kabarmu. Kamu seolah lupa bahwa ada seseorang yang
selalu ingin tahu keadaanmu. Kadang, kamu tidak mengabariku berhari-hari. Aku
masih saja meyakini kamu masih orang yang sama. Seseorang yang aku percaya,
bisa menjaga apa yang aku percayakan kepadamu.
Semakin hari
aku merasa kamu semakin berbeda. Kamu tidak semanis dulu saat pertama
menyatakan cinta. Kamu tidak seperti dulu saat semua masih awal kita menjalani
semua. Kamu menjadi asing bagiku. Kamu bukan orang yang kukenal lagi. Kamu
terlalu asyik dengan duniamu sendiri. apa aku lelah dengan semua ini? Tidak.
Aku tidak lelah. Karena itu aku masih bertahan memahamimu. Barangkali,
beginilah kamu sebenarnya. Tentu itu tidak akan membuatku menyerah. Namun, kamu
seharusnya paham, jika kamu benar-benar masih ingin bersamaku, kamu akan
menjadi orang yang seperti dulu. Aku juga tidak menuntut hal yang berlebihan.
Aku hanya ingin tetap bertukar kabar. Menjaga komunikasi agar tidak ada salah
paham dalam hati. Jangan menghilang, seolah aku tidak pernah menunggumu pulang.
Aku tidak
menuntut banyak. Lakukanlah sewajarnya. Sebab aku adalah kekasihmu. Orang yang
selalu mencemaskan keadaanmu saat kamu tak ada kabar. Jangan buat aku lelah.
Lalu, aku memilih menyerah. Berlakulah seperti sebelum kita terasa jauh seperti
ini. jika kamu memang masih berkeinginan kita utuh menjaga dua hati. Ingatlah,
bahwa aku selalu mengingatmu. Sungguh aku tidak ingin menyerah dan membiarkan
semuanya menjadi masa lalu. Aku masih ingin memperjuangkan kita. Aku masih
ingin mencintai kamu saja. Namun, aku manusia yang ada batas lelahnya juga.
Jangan lupa, aku juga bisa melupakanmu.
Boy Candra |
15/02/2015
Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai
Resensi Novel Senja, Hujan, dan Cerita yang Telah Usai
Judul buku :
Senja, Hujan, & Cerita yang Telah Usai
Penulis :
Boy Candra
Penerbit :
Media Kita
Tebal buku :
viii + 240 halaman
Cetakan :
Cetakan Keempatbelas, 2016
Ukuran :
13 x 19 cm
ISBN : 979-794-499-9
ISBN : 979-794-499-9
Buku
ini saya persembahkan untuk orang-orang yang pernah dilukai, hingga susah
melupakan. Untuk orang-orang yang pernah mencintai, tapi dikhianati. Juga yang
pernah mengkhianati, lalu menyadari semua bukanlah hal baik untyk hati. Kepada
orang yang jatuh cinta diam-diam, suka pada sahabat sendiri, tidak bisa
berpaling dari orang yang sama, dan hal-hal yang lebih pahit dari itu. saya
pernah ada di posisi kamu saat ini. mari mengenang, tapi jangan lupa jalan
pulang. Sebab setelah tualang panjang ke masa lalu, kamu harus menjadi lebih
baik. Dan mulailah menata rindu yang baru.
Katakan
kepada masa lalu:
Kita
adalah cerita yang telah usai.
Buku yang
pertama terbit pada Juni 2015 ini adalah buku nonfiksi kedua dari Boy Candra,
bercerita tentang kepahitan-kepahitan yang dialami seseorang yang jatuh cinta.
Cerita-cerita tersebut dikemas seperti dalam suatu catatan harian. Terbagi
dalam 7 bagian, buku ini seperti menceritakan bagaimana perasaan-perasaan seseorang
yang sedang mengalami pahitnya cinta. Seperti yang ditulisnya sebagai
“sinopsis” di sampul belakang buku, buku ini membuat kita mengenang masa lalu.
Sekaligus menyadarkan kita bahwa masa lalu hanya cukup untuk dikenang dan
dijadikan pelajaran. Cocok untuk dibaca oleh orang yang sedang patah hati agar
tersadar bahwa hidup tetap harus dilanjutkan. Seperti kutipan dalam buku ini
“Di dunia ini banyak sekali hal ajaib yang bisa kamu dapatkan. Bahkan dalam hal
yang mungkin menurutmu terburuk sekalipun.
Bagian pertama
dari buku ini adalah tentang “Hujan dan hal-hal yang disimpan”. Begitu banyak
kenangan dari hujan. Kenangan manis yang seringkali berujung tangis.
Buku ini
sedikit banyak membuat kita mengerti bagaimana perasaan orang lain, terutama
orang yang kita cintai. Sebab tak jarang, perpisahan yang kita alami bukan
karena dia yang membuat masalah, tetapi kita yang bermasalah.
Buku ini
seperti “curhatan laki-laki” tentang beberapa kisah cinta yang dialaminya dan
sulit ia lupakan. Selain “Hujan dan Hal-Hal yang Disimpan”, buku ini
mengandung 6 bagian yang lain, yaitu :
·
Senja yang Manja dan Luka
yang Membalut Dada.
·
Terima kasih Pernah Ada,
meski Sekadar Rahasia.
·
Kepada Seseorang yang
Betah Dalam Ingatanku, Meski Kamu Tidak Kubutuhkan Lagi.
·
Semakin Aku Cinta
Kamu, Semakin Kita Saling Menusukkan Pisau.
·
Kepada Diriku Sendiri;
dengarkan ini dengan baik-baik.
·
Sebab, Kini Kamu Telah Denganku, Kenangan Lalu Biarlah Sebagai Masa
Lalu.
Senja,
Hujan, & Cerita yang Telah Usai tak hanya berisi tulisan. Tetapi
juga beberapa ilustrasi-ilustrasi yang menarik dengan kutipan-kutipan yang
mendukung.
Nah berikut ini
adalah sepenggal kisah dari Senja, Hujan, & Cerita yang Telah Usai
“...Namun, kini seolah sedih dan hujan adalah teman sejalan. Aku tidak lagi
bisa memelukmu saat hujan turun. Meski setiap kali hujan turun, aku selalu bisa
memelukmu dalam ingatan. Seseorang yang dulu bersikeras mengajakku bertahan.
Katamu, apapun yang terjadi tetaplah denganku. Begitu manis dan selalu menguatkan.
Hal yang akhirnya sulit membuatku merelakanmu, bahkan dalam ingatan. Kamu
menjadi kisah sedih yang kini meninggalkan pedih. Setiap kali hujan turun aku
kembali mengenangmu. Ingin lari, ingin menyudahi, tapi hati dan segala hal yang
pernah terjadi tak mau lagi peduli. Hujan kini tak lagi semenyenangkan saat bersamamu.
Hanya turun dengan rasa rindu yang berakhir pilu.”
Labels:
fiksi,
resensi,
unforgettable
Sunday, October 16, 2016
and I will try to fix you
And I will try to fix you.
Coldplay – Fix You
Rabu malam, 17 Februari 2016. Aku berusaha keras mengingat kembali materi
apa yang telah diberikan dosenku. Semester pertama ini benar-benar berat
untukku. Libur panjang setelah lulus SMA kemarin benar-benar liburan untukku.
Tak sekalipun aku menyentuh buku-buku latihan soal seperti beberapa bulan
menjelang ujian akhir. Inilah akibatnya, aku tak dapat menerima materi yang
diberikan oleh dosenku di semester pertama ini. Padahal sebenarnya
materi-materi yang beliau berikan sedikit banyak sudah pernah aku dapatkan saat
SMA. Kebiasaanku selama semester pertama ini pun buruk. Bagaimana tidak? Hampir
setiap sesi kuliah aku tertidur. Yaa... kebiasaan selama masa orientasi telah
membuatku seperti ini. Dan akhirnya waktu ujian akhir semester satu pun tiba.
Aku kelabakan. Hanya seujung kuku materi yang aku bisa. Disinilah aku sekarang,
dalam kamar, berkutat dengan berlembar-lembar soal matriks dan kertas
coret-coret di saat teman-temanku bercanda ria di ruang tv.
Aku mencoba mengerjakan satu soal. Soal itu memintaku mencari general
invers dari sebuah matriks. Sebenarnya sudah berkali-kali aku menemukan soal
semacam ini, tetapi tetap saja aku jarang mendapatkan hasil yang tepat. Kurang
teliti adalah kelemahanku. Berkali-kali kucoba, aku tetap tak menemukan jawaban
yang seperti didapatkan oleh temanku tadi sore. “Tuhan, serumit inikah?”
Frustasi, aku mengambil makanan ringan di sudut kamar. Kata mamaku, “kamu
ga akan bisa mikir kalau perut kamu lapar.” Yaa aku berharap setelah makan aku
bisa kembali fokus dan teliti. Satu menit, dua menit, sampai makanan ringan itu
habis, aku memainkan ponselku. Ini adalah kebiasaan burukku dalam satu semester
ini.
Ting.... sebuah pesan masuk ke ponselku. Aku mengerjap. Kulirik jam
dinding, 10.30. Aku mengambil handphone yang tergeletak di samping buku aljabar
linear. Setelah makan cemilan tadi aku kembali membaca ringkasan materi lalu
ketiduran dengan posisi masih memegang pensil dan ringkasan materi. Aku melihat
nama pengirim pesan, Rama.
“Mell...”
“Dalem”
“Aku
pernah sakit, bekasnya sangat dalam dan selalu tiba-tiba muncul, tolong bantu
aku sembuh.”
“Aku
bisa bantu dengan cara apa?”
“Kamu
tau caranya. Aku serius. Yang aku rasakan bukan susah move on atau ingin
balikan, ini sakit Mell. Jadi tolong jangan samakan dengan orang yang dulu.
Kamu....”
“Aku
harus bagaimana untuk membantu kamu? Kamu ingin aku bagaimana?”
“Tetap
seperti sekarang yang selalu hibur aku. J kamu seperti ini saja
aku sudah senang. Maaf kalau aku menuntut sesuatu tapi aku tidak memaksa kamu
kok“
“Iyaa
aku coba J. Tak apa, aku mengerti.”
“Tidur
Mell, maaf aku ngelantur. Tapi ini saatnya aku keluarkan semua yang dahulu.”
Aku
tak terlalu paham dengan apa yang dimaksud Rama. Aku menanggapi perkataan Rama
dengan denotatif. Sesaat setelah itu aku membuka profil akun sosial Rama, di
sana tak lagi terpasang fotonya bersama Iswari. Aku membaca kembali pesannya.
Otakku memutar mencari makna perkataannya.
Dia
ingin aku tetap bersamanya, dia ingin aku membantunya melupakan kenangan
buruknya bersama Iswari. Dia ingin aku tak menyamakannya dengan lelaki yang
mendekatiku sebelumnya. Dia ingin...
Lamat-lamat
terdengar suara lagu Fix You dari kamar sebelahku. “Iya Ram, I will try to fix
you” kataku dalam hati dan aku kembali terlelap.
kamu, yang masih betah di hati dan pikiranku
Apa aku terlalu menyayangimu? Ataukah aku hanya takut dengan cibiran orang orang tentang kita yang tak lagi bersama? Atau aku hanya ingin orang orang simpati kepadaku? Yang jelas aku sungguh merasakan ini. Merasakan kalau aku menyayangimu. Tak ingin melepasmu. Mungkin lebih tepatnya sampai sekarang aku belum bisa ikhlas melepasmu. kau berubah tiba tiba. Selalu dingin berbicara denganku. Tapi jauh aku menatap matamu entah kenapa aku menemukan pilu. Itu yang membuat aku belum bisa ikhlas melepasmu. Aku masih saja menganggap kamu menyayangiku seperti aku menyayangimu. Aku masih saja menganggap kamu butuh perhatianku seperti dulu. Meskipun di sisi lain aku takut perhatianku justru menyakitimu. Aku ingin berbicara denganmu. Aku ingin mendengarkan keluh kesahmu seperti dulu. Aku ingin kamu berterus terang padaku mengapa kamu ingin melepaskan aku, orang yang pernah kamu minta untuk tidak pergi darimu. Tapi mengapa kamu selalu membisu setiap kita bertemu. Memalingkan muka dan menghindari tatapanku. Mengapa?
Jakarta, 8/10/16. 10:22 pm
Subscribe to:
Comments (Atom)
